Kita tidak bisa mengembangkan kompetensi setelah program dimulai. Kompetensi teknis harus dibangun sebelum program tersebut berjalan," ujar Yulius S. Bulo.
BACA JUGA:Bansos 2026: Jadwal Cair Bansos Oktober, NIK dan Status Penerima Bantuan Sosial
Ia menambahkan, Pertamina sebagai perusahaan energi dituntut terus meningkatkan technical capability assurance.
Penguatan tersebut dibutuhkan agar perusahaan mampu mengoperasikan aset secara unggul sekaligus menjawab tantangan teknologi yang semakin berkembang dan kompleks di sektor hulu migas.
Karena itu, Yulius mendorong para peserta pelatihan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan individu.
Mereka diharapkan mampu berkembang menjadi subject matter expert (SME) yang nantinya dapat menjadi rujukan dalam pengembangan teknologi dan praktik pengeboran.
Lebih jauh, kemampuan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi Pertamina.
Para tenaga ahli juga didorong untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas industri migas di kawasan Asia Tenggara.
"Harapannya, peserta dapat berkembang menjadi subject matter expert yang tidak hanya memberikan kontribusi bagi Pertamina, tetapi juga mampu berbagi pengetahuan dengan komunitas migas di kawasan Asia Tenggara," lanjutnya.
Sementara itu, VP Drilling & Well Intervention PHE, Fata Yunus, mengatakan pengembangan unconventional well menjadi salah satu peluang yang perlu mulai dipersiapkan secara serius oleh Indonesia.
Menurut Fata, potensi sumber daya migas tidak hanya berada pada zona reservoir konvensional.
Lapisan bawah tanah yang berada di bawah zona tersebut masih memiliki potensi sumber daya, termasuk source rock yang menjadi bagian dari sumber daya migas nonkonvensional.
"Di bawah zona konvensional, kita masih memiliki source rock unconventional. Kita harus mengeksplorasi dan memanfaatkan seluruh potensi minyak dan gas tersebut," kata Fata Yunus.
Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Argentina, China, dan Australia yang telah lebih dahulu mengembangkan sumber daya nonkonvensional.
Pengembangan tersebut didukung kemajuan teknologi pengeboran dan completion yang memungkinkan sumber daya migas dengan karakteristik berbeda dapat diproduksikan secara lebih optimal.