Fata menegaskan Indonesia tidak boleh hanya berada pada posisi sebagai pengguna teknologi.
Sejalan dengan rencana pengembangan unconventional well, kemampuan teknis dan ekosistem industri di dalam negeri juga perlu dibangun secara bertahap.
Menurut dia, penguasaan teknologi harus mencakup pemahaman terhadap kebutuhan peralatan, material, desain sumur, hingga berbagai proses pendukung kegiatan unconventional drilling.
Dengan begitu, Indonesia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan teknologi dengan karakteristik lapangan dan kebutuhan operasional di dalam negeri.
"Jangan hanya mengimpor teknologi. Kita harus membangun kapabilitas lokal dan ekosistem industri di Indonesia," tegas Fata.
Penguatan kompetensi melalui pelatihan ERD tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan teknis sebelum pengembangan unconventional well dilakukan secara lebih luas.
Dengan SDM yang kompeten serta dukungan ekosistem industri yang kuat, Pertamina diharapkan mampu mengembangkan teknologi pengeboran secara lebih mandiri sekaligus membuka peluang pemanfaatan potensi sumber daya migas nonkonvensional Indonesia. (abu)