Tekwan, Warisan Rasa dari Palembang yang Tak Lekang oleh Waktu
tekwan-Fhoto: Istimewa-
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern, eksistensi tekwan tetap bertahan.
Namun, pelaku usaha mengakui adanya tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi rasa dan kualitas bahan baku yang harganya kerap fluktuatif.
Harga ikan tenggiri dan udang yang naik turun memengaruhi biaya produksi. Meski demikian, sebagian besar penjual memilih mempertahankan kualitas daripada menurunkan standar bahan.
“Kalau rasa berubah, pelanggan bisa langsung tahu,” kata Rina.
Di sisi lain, media sosial justru membuka peluang baru. Banyak konten kreator kuliner membagikan ulasan dan rekomendasi tempat makan tekwan terbaik di Palembang. Hal ini membantu pelaku usaha kecil menjangkau pasar yang lebih luas tanpa biaya promosi besar.
Sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara, tekwan mencerminkan sejarah panjang interaksi budaya di Sumatera Selatan.
Perpaduan teknik memasak, bahan lokal, dan pengaruh budaya luar menjadikan hidangan ini unik sekaligus sarat makna.
Upaya pelestarian kuliner tradisional seperti tekwan tidak hanya penting untuk menjaga identitas daerah, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal.
Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga penerus yang mampu mempertahankan resep dan teknik pembuatannya.
Kini, semangkuk tekwan tak sekadar menghangatkan tubuh. Ia membawa cerita tentang tradisi, kebersamaan, dan perjalanan sejarah yang panjang.
Dari dapur-dapur sederhana di Palembang hingga meja makan di berbagai kota besar, tekwan terus membuktikan bahwa cita rasa lokal mampu bertahan dan bersaing di tengah arus globalisasi kuliner.
Dengan kuah beningnya yang gurih dan bola-bola ikan yang kenyal, tekwan tetap menjadi simbol sederhana namun kuat dari kekayaan rasa Indonesia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




