Siring Irigasi Ambruk, 63 Hektar Sawah Gagal Tanam
AMBRUK : Saluran siring irigasi yang baru dibangun ambruk alias patah sepanjang 10 meter sehingga aliran air tidak sampai ke areal persawahan seluas 63 hektar dan petani gagal tanam.-Foto:dokumen palpos-
Saat pembangunan pengembangan irigasi bendungan Ataran Lubuk Genting 1 Air Lemutu, para petani tidak bisa membajak sawah karena aliran air dihentikan.
"Sekarang air kembali tidak mengalir dan petani tidak bisa menanam padi. Kami nak nuntut, kami kecewa dengan pekerjaan proyek itu (Pengembangan irigasi bendungan) baru 30 persen yang berdampak pada mata pencarian," tegasnya.
BACA JUGA:Pelantikan Pejabat, Edison: Tidak Senang Silakan PTUN
BACA JUGA:Oknum Dewan Muara Enim Terjaring Kasus Suap
Lanjutnya, warga Tanjung Bulan telah mengetahui oknum anggota dewan bersama anaknya telah diamankan Kejaksaan Tinggi Sumsel tersebut.
"La pacak kami kalu dia ditangkap. Mungkin berkaitan dengan pekerjaan proyek irigasi yang berhenti di bulan Desember kemarin. Kami minta irigasi kembali diperbaiki, kami nak makan," harapnya.
Terpisah, Kepala Desa Tanjung Bulan Tarzanudin (54), mengatakan atas kejadian tersebut pemerintah desa dan masyarakat dirugikan karena pembangunan proyek pengembangan irigasi bendungan Ataran Lubuk Genting 1 Air Lemutu dihentikan.
Dikatakannya, bahwa semasa pengerjaan irigasi tersebut ada keanehan, karena pelaksana pembangunan tanpa perencanaan yang jelas. Padahal pihaknya sudah mengingatkan bahwa bulan Desember 2025 sudah masuk musim tanam.
Kemudian, warga meminta agar kontraktor mengantisipasi kekeringan dengan mengalirkn air menggunakan pipa, hanya saja, sampai saat ini hal tersebut tidak juga diwujudkan.
"Lebih parahnya, saat pengerjaan puluhan tukang yang bekerja mengalami kelaparan dan saya sempat mengingatkan penanggungjawab untuk memperhatikan kondisi pekerja," ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, pihak desa sempat memberi para pekerja makanan, agar kondisi mereka stabil dan bisa bekerja dengan maksimal.
"Saat itu, ada sekitar 40 orang pekerja, mereka kelaparan, saya sudah ingatkan berulang kali, namun tidak didengar," pungkasnya.
Atas kejadian tersebut, sambungnya, masyarakat tidak bisa menggarap sawahnya karena irigasinya sampai sekarang belum selesai dan dihentikan.
"Oleh karena itu atas nama masyarakat memohon kepada pemerintah agar segera memperbaiki saluran irigasi tersebut," pintanya.
Dijelaskannya 50 persen masyarakat atau 150 KK warga Desa Tanjung Bulan berprofesi sebagai petani sawah dan selebihnya bertani karet, sawit dan kopi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




