“Yang paling penting saat memasak cumi adalah jangan terlalu lama, karena teksturnya bisa menjadi keras dan kenyal berlebihan. Memasak selama 3–5 menit cukup untuk mendapatkan cumi yang empuk dan juicy,” jelas Chef Ardi.
BACA JUGA:Cakwe, Jajanan Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Makanan Modern
BACA JUGA:Bola Ubi, Jajanan Tradisional yang Kembali Naik Daun di Tengah Tren Kuliner Modern
Teknik ini juga sering diterapkan di restoran kelas atas maupun warung kaki lima yang menyajikan hidangan serupa.
Selain rasanya yang menggugah selera, cumi lada hitam juga menjadi tren kuliner karena tampilannya yang menarik.
Potongan cumi yang putih bersih kontras dengan saus hitam pekat, dihias dengan irisan paprika atau daun bawang, membuat hidangan ini tampak menggoda.
Tidak heran jika banyak pengunjung restoran memutuskan untuk mengambil foto terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan. Tren “food photography” ini turut membantu popularitas cumi lada hitam di media sosial, terutama Instagram.
Para pakar kuliner juga menilai bahwa popularitas cumi lada hitam tidak lepas dari fleksibilitas hidangan ini.
Selain disajikan dengan nasi putih hangat, cumi lada hitam juga cocok dipadukan dengan mi goreng, kentang goreng, atau bahkan salad sayuran.
Hal ini memungkinkan menu ini diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga dewasa, bahkan mereka yang menyukai makanan pedas.
Dari sisi ekonomi, popularitas cumi lada hitam juga berdampak positif pada sektor perikanan.
Permintaan tinggi terhadap cumi segar mendorong nelayan lokal untuk meningkatkan produksi dan menjaga kualitas tangkapan.
Menurut data Asosiasi Perikanan Indonesia, konsumsi cumi-cumi di wilayah Jakarta dan sekitarnya meningkat hingga 20% dalam dua tahun terakhir, sebagian besar digunakan untuk membuat hidangan populer seperti cumi lada hitam.
Namun, ada juga tantangan dalam menjaga kualitas cumi lada hitam. Salah satunya adalah harga bahan baku yang fluktuatif.
Cumi segar kadang sulit diperoleh di musim tertentu, sehingga restoran harus menyesuaikan harga menu atau mencari alternatif supplier.
Selain itu, teknik memasak yang salah dapat merusak tekstur cumi, sehingga pelanggan kecewa dengan hasilnya.