Keberadaan sumur referensi ini menjadi acuan penting dalam memperkirakan potensi produksi minyak dari sumur baru yang ditemukan.
Lebih lanjut, Djudjuwanto mengungkapkan bahwa keberhasilan penemuan sumur minyak baru ini tidak terlepas dari pemanfaatan data seismik 3D Abab yang diakuisisi pada tahun 2023.
Data seismik tersebut kemudian diintegrasikan dan dianalisis secara mendalam oleh tim teknis PEP Adera Field.
Pendekatan baru ini merupakan hasil studi terpadu dari Tim Geologi, Geofisika, Reservoir, dan Produksi (GGRP).
Melalui analisis seismik yang lebih detail dan akurat, tim mampu memetakan arah serta sebaran lapisan reservoir dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.
“Melalui analisis data seismik yang lebih detail, tim dapat memetakan arah dan sebaran lapisan reservoir dengan lebih akurat. Dengan begitu, peluang keberhasilan pengeboran semakin besar,” jelas Djudjuwanto.
Djudjuwanto menambahkan, penemuan sumur minyak baru di wilayah kerja PEP Adera Field ini menjadi suntikan positif dalam upaya meningkatkan produksi migas pada tahun 2026.
Keberhasilan ini juga memberikan kontribusi nyata dalam mendukung target lifting minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Menurutnya, setiap tambahan produksi, baik dari sumur baru maupun optimalisasi sumur eksisting, memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Penemuan ini mendorong pewujudan target lifting 1 juta barel per hari yang ditetapkan pemerintah. Inovasi teknologi dan penerapan pendekatan-pendekatan baru mendorong kinerja PEP dalam mewujudkan ketahanan energi nasional,” pungkasnya. (abu)