Salah seorang pengendara roda dua, Dian, mengaku tetap memilih melintasi jembatan Bailey meskipun harus menghadapi kesulitan saat naik dan turun.
“Memang masih susah turun naik jembatan, tapi jadilah, daripada harus mutar jauh. Kalau mutar, bisa nambah waktu dan bensin,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Dian, keberadaan jembatan Bailey setidaknya sudah memberikan solusi sementara bagi warga, meski masih membutuhkan penyempurnaan agar lebih aman dan nyaman dilalui.
Hal senada juga disampaikan Ana, pengendara roda dua lainnya yang rutin melintasi jembatan Bailey tersebut.
Ia mengaku senang karena akses penghubung sudah mulai bisa digunakan, meskipun belum sepenuhnya selesai.
“Alhamdulillah sudah bisa dilewati. Semoga sehari dua hari ini sudah selesai dan bisa lewat dengan nyaman.
Tadi kami lewat jembatan tapi terpaksa turun dari motor saat naik dan turun jembatan, karena masih pasir dan belum dicor,” ungkap Ana.
Menurut Ana, kondisi jembatan yang masih berupa pasir cukup menyulitkan, terutama bagi pengendara perempuan dan anak-anak sekolah.
Ia berharap pengerjaan dapat segera dirampungkan agar risiko terpeleset atau terjatuh bisa diminimalisasi.
Warga lainnya juga menyampaikan harapan serupa. Mereka berharap pemerintah setempat dan pihak terkait dapat mempercepat penyelesaian pembangunan jembatan Bailey agar akses vital tersebut benar-benar aman digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pada jam-jam sibuk pagi hari, jembatan Bailey di Kelurahan Muara Dua terlihat cukup padat.
Banyak orang tua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah memilih melintasi jembatan tersebut karena lebih dekat dan praktis.
Kondisi ini menambah urgensi penyelesaian pembangunan jembatan agar keselamatan pengguna, khususnya anak-anak, lebih terjamin.
Beberapa pengendara terlihat menuntun sepeda motornya saat melewati bagian jembatan yang masih berupa pasir.