Mengingat Gandus secara alami memiliki banyak kawasan rawa yang berfungsi sebagai "parkir" air alami, Jufriansyah mengingatkan agar aktivitas pembangunan tidak dilakukan sembarangan.
BACA JUGA:Sekda Sumsel Edward Candra dan Kapolda Sumsel Hadiri Panen Raya Jagung Serentak
"Rawa itu tandon air alami kita. Kalau mau membangun atau menimbun lahan, tolong urus izinnya dan ikuti aturannya. Jangan asal timbun tanpa mikirkan ke mana air akan lari.
Kalau resapannya ditutup total tanpa ada kolam retensi, ya jangan kaget kalau airnya malah pindah menggenangi rumah tetangga sebelah," tambahnya.
Warga juga diajak untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong setiap akhir pekan dengan fokus membersihkan parit di lingkungan pemukiman masing-masing.
Beliau menekankan pentingnya mengecek kondisi selokan agar tidak terjadi pendangkalan. "Coba cek selokan di depan rumah. Kalau sudah penuh lumpur atau rumputnya sudah tinggi, ayo bareng-bareng tetangga dibersihkan.
Aliran air itu harus nyambung terus sampai ke pembuangan akhir. Kalau di depan rumah kita bersih tapi di ujungnya buntu, ya tetap saja banjir," jelasnya.
Terakhir, Jufriansyah meminta warga untuk proaktif melaporkan kendala teknis di lapangan sebelum kondisi memburuk.
Beliau berharap masyarakat bisa menjadi mata dan telinga bagi pemerintah kecamatan dalam mendeteksi potensi masalah.
"Jangan nunggu air masuk ke dalam rumah baru heboh melapor. Kalau lihat ada pintu air yang macet atau ada gorong-gorong yang buntu parah, segera lapor ke Lurah atau langsung ke kantor Camat.
Kami punya tim lapangan yang siap bergerak, tapi kami butuh informasi cepat dari warga," pungkasnya.
Melalui langkah-langkah konkret dan kepatuhan terhadap imbauan ini, Jufriansyah, S.STP., M.Si. optimis bahwa risiko banjir di Kecamatan Gandus dapat ditekan seminimal mungkin.
Kesadaran lingkungan warga adalah benteng utama dalam menjaga Gandus tetap aman dan kering sepanjang musim penghujan tahun ini.(Vot)