“Dulu pembeli kebanyakan orang tua. Sekarang anak muda juga banyak, bahkan ada yang beli untuk difoto dulu sebelum dimakan,” ujarnya sambil tersenyum.
BACA JUGA:Lumpia Semarang, Ikon Kuliner Legendaris yang Terus Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
BACA JUGA:Puding Roti Tawar Lembut dan Creamy, Dessert Istimewa yang Manisnya Pas dan Bikin Nagih
Tak hanya dijual di pasar tradisional, klepon kini mulai masuk ke kafe dan restoran modern.
Beberapa pelaku usaha kuliner menghadirkan klepon dengan inovasi baru, seperti klepon lava dengan isian gula aren yang lebih cair, klepon keju, hingga klepon berlapis cokelat.
Meski demikian, banyak pemerhati budaya mengingatkan agar inovasi tersebut tidak menghilangkan esensi asli klepon.
Pakar budaya kuliner dari Universitas Gadjah Mada, Dr. R. Wibowo, mengatakan bahwa klepon bukan sekadar makanan, tetapi juga memiliki nilai filosofis.
“Bentuknya yang sederhana dan rasa manis di dalamnya mengajarkan bahwa tidak semua hal indah terlihat dari luar. Ini adalah nilai kehidupan yang diwariskan melalui kuliner,” jelasnya.
Selain nilai budaya, klepon juga dinilai relatif lebih sehat dibandingkan jajanan modern yang tinggi pengawet dan pewarna buatan.
Bahan-bahan klepon umumnya alami, seperti tepung ketan, gula merah, dan kelapa. Meski tetap mengandung gula, konsumsi klepon dalam jumlah wajar dianggap lebih aman dibandingkan makanan ultra-proses.
Pemerintah daerah di beberapa wilayah juga mulai menjadikan klepon sebagai bagian dari promosi pariwisata.
Dalam berbagai festival kuliner dan acara budaya, klepon hampir selalu hadir sebagai ikon jajanan tradisional.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkenalkan makanan lokal kepada generasi muda dan wisatawan mancanegara.
Namun, tantangan tetap ada. Regenerasi pembuat jajanan tradisional masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Banyak anak muda yang enggan melanjutkan usaha orang tuanya sebagai penjual kue pasar.
Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pelatihan, pemasaran digital, dan inovasi kemasan agar klepon tetap relevan dengan zaman.