PALPOS.CO - Di antara deretan kue tradisional Indonesia, lapis legit menempati posisi istimewa.
Kue berlapis dengan aroma rempah yang kuat ini bukan sekadar penganan, melainkan simbol sejarah, ketekunan, dan identitas kuliner Nusantara.
Meski zaman terus berubah dan tren makanan silih berganti, lapis legit tetap bertahan—bahkan kian dicari—baik sebagai sajian perayaan maupun oleh generasi muda yang mulai kembali mengapresiasi cita rasa klasik.
Lapis legit dikenal dengan teksturnya yang padat namun lembut, serta lapisan-lapisan tipis yang disusun satu per satu.
BACA JUGA:Cara Buat Pempek Adaan Khas Palembang !
BACA JUGA:Tempe Bacem, Cita Rasa Tradisional yang Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern
Proses pembuatannya yang rumit membuat kue ini sering disebut sebagai “kue kesabaran.” Setiap lapisan dipanggang bergantian hingga matang sebelum adonan berikutnya dituangkan.
Dalam satu loyang lapis legit, bisa terdapat belasan hingga puluhan lapisan, tergantung resep dan ketebalan yang diinginkan.
Sejarah lapis legit tak lepas dari pengaruh kolonial Belanda. Kue ini diyakini sebagai adaptasi lokal dari spekkoek, kue lapis khas Eropa yang kemudian mengalami penyesuaian dengan bahan dan selera Nusantara.
Rempah-rempah seperti kayu manis, cengkih, pala, dan kapulaga menjadi ciri utama yang membedakan lapis legit dari kue lapis Eropa.
BACA JUGA:Kue Cubit, Jajanan Legendaris yang Terus Beradaptasi di Tengah Tren Kuliner Modern
BACA JUGA:Telur Gulung, Jajanan Sederhana yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Penggunaan mentega berkualitas tinggi, kuning telur dalam jumlah banyak, serta gula yang seimbang menghasilkan rasa kaya dan aroma khas yang sulit ditiru.
Di berbagai daerah, lapis legit hadir dengan karakter masing-masing. Ada yang menonjolkan rasa rempah yang tajam, ada pula yang lebih lembut dengan dominasi mentega.
Beberapa pembuat kue bahkan menambahkan sentuhan modern, seperti lapisan prune, keju, cokelat, atau varian rendah gula untuk menyesuaikan selera konsumen masa kini.