Masalah semakin besar jika pakan alternatif diberikan tanpa mengetahui kandungan protein serta dampaknya terhadap kualitas air kolam.
BACA JUGA:Hal yang Wajib Dipahami Sebelum Ternak Ayam Petelur, Pemilihan Bibit Jadi Kunci Utama
Pada kolam tanah, risiko ini masih bisa ditoleransi, namun pada kolam terpal atau kolam beton, kondisi air sepenuhnya ditentukan oleh pengelola.
Oleh karena itu, modal budidaya harus disiapkan sejak awal hingga panen agar usaha berjalan lancar.
2. Persiapan Kolam yang Kurang Maksimal
Banyak pemula yang terburu-buru menebar benih lele tanpa melakukan persiapan kolam dengan benar.
Air kolam yang baru diisi langsung digunakan, padahal kondisi tersebut belum stabil dan bisa menyebabkan benih stres hingga mati.
Idealnya, air kolam perlu diendapkan dan difermentasi terlebih dahulu menggunakan campuran probiotik seperti EM4 dan molase selama minimal tiga hari.
Semakin lama proses fermentasi, kualitas air akan semakin baik.
Selain itu, sebelum benih dilepaskan, perlu dilakukan adaptasi atau aklimatisasi selama 15–20 menit agar benih menyesuaikan diri dengan suhu dan kondisi air kolam.
3. Salah Memilih Bibit Lele
Kesalahan berikutnya adalah membeli bibit lele tanpa memperhatikan ukuran dan kualitas.
Pemula sering kali tergiur harga murah tanpa mengecek kondisi bibit. Akibatnya, pertumbuhan lele menjadi lambat dan masa panen lebih lama.
Bibit lele yang ideal memiliki ukuran minimal 5 cm, bergerak aktif, tidak cacat, dan warnanya cerah.
Bibit yang sehat akan tumbuh lebih cepat dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi.