7 Kesalahan Fatal Pemula dalam Usaha Ternak Lele yang Sering Berujung Rugi

Rabu 04-02-2026,21:20 WIB
Reporter : Diansyah
Editor : Dahlia

4. Tidak Merawat Kualitas Air Kolam

Air kolam yang dibiarkan kotor, berbau, dan penuh amonia merupakan sumber utama penyakit pada lele. 

Kondisi ini dapat merusak pH air dan menyebabkan ikan stres, sakit, bahkan mati, yang ditandai dengan lele menggantung di permukaan atau berkumpul di sudut kolam.

Untuk mencegah hal tersebut, kolam sebaiknya dilengkapi dengan saluran pembuangan air. 

Dengan demikian, peternak bisa membuang air kotor yang mengandung amonia secara rutin, terutama pada pagi dan sore hari, sehingga kualitas air tetap terjaga.

5. Kesalahan dalam Pemberian Pakan

Pemberian pakan yang tidak tepat juga menjadi kesalahan fatal. Banyak pemula memilih pakan murah dengan kandungan protein rendah, sehingga pertumbuhan lele tidak optimal. 

Selain itu, pemberian pakan secara berlebihan menyebabkan sisa pakan mengendap di dasar kolam dan bercampur dengan kotoran ikan, yang akhirnya meningkatkan kadar amonia.

Untuk pembesaran lele, pakan dengan kandungan protein minimal 30 persen sangat dianjurkan. 

Pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan ikan, tidak boleh berlebihan maupun kekurangan. Kekurangan pakan bisa memicu sifat kanibalisme, sementara kelebihan pakan merusak kualitas air.

6. Tidak Melakukan Penyortiran Lele

Lele dikenal memiliki sifat kanibal, terutama pada fase awal pertumbuhan. 

Oleh karena itu, penyortiran menjadi langkah wajib yang sering diabaikan oleh pemula. Penyortiran idealnya dilakukan sekitar tiga minggu setelah penebaran benih.

Jika ditemukan lele yang tumbuh jauh lebih besar dibandingkan yang lain, sebaiknya segera dipisahkan atau dikeluarkan dari kolam. 

Jika dibiarkan, lele tersebut berpotensi memangsa sesamanya dan menyebabkan kerugian.

7. Kepadatan Tebar yang Berlebihan

Kategori :