Meski digunakan dalam jumlah kecil, keberadaannya memberi dampak besar pada rasa dan aroma masakan.
Namun demikian, para ahli gizi mengingatkan agar proses penggorengan dilakukan dengan minyak yang cukup dan tidak digunakan berulang kali secara berlebihan.
Mengontrol tingkat kepedasan juga disarankan bagi mereka yang memiliki masalah lambung.
Melihat tingginya minat masyarakat, sejumlah pelaku usaha kuliner rumahan mulai memasukkan terong goreng pedas daun jeruk ke dalam daftar menu mereka.
Hidangan ini kerap dipadukan dengan ayam goreng, ikan bakar, atau tahu tempe sebagai paket lauk lengkap.
Harga jualnya pun bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000 per porsi, tergantung lokasi dan tambahan lauk lainnya. Dengan modal bahan yang relatif kecil, margin keuntungan yang didapat cukup menjanjikan.
Beberapa pelaku usaha bahkan menawarkan versi frozen atau setengah matang yang tinggal dipanaskan dan dicampur sambal sebelum disajikan.
Inovasi ini memudahkan konsumen yang ingin menikmati hidangan praktis di rumah.
Fenomena terong goreng pedas daun jeruk membuktikan bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Di tengah arus globalisasi kuliner, masakan sederhana berbasis bahan lokal justru semakin dicari.
Aroma daun jeruk yang khas, pedasnya cabai yang menggigit, serta lembutnya tekstur terong menciptakan perpaduan rasa yang sulit dilupakan.
Tidak heran jika banyak orang menyebut hidangan ini sebagai comfort food yang selalu dirindukan.
Dengan popularitas yang terus meningkat, terong goreng pedas daun jeruk berpotensi menjadi salah satu ikon kuliner rumahan yang mampu menembus pasar lebih luas.
Dari dapur sederhana hingga meja makan restoran, sajian ini membuktikan bahwa kelezatan sejati tidak selalu harus rumit.