Tingginya pemesanan dari dapur-dapur SPPG tersebut secara langsung mendongkrak omzet usaha Firman.
BACA JUGA:RDP dengan Perusda Petro Prabu, Komisi II DPRD Prabumulih Soroti Status Plt Direktur Petro Prabu
Jika sebelumnya penjualan ikan giling di tokonya rata-rata hanya sekitar 500 kilogram per hari, kini jumlah tersebut melonjak hingga mencapai satu ton per hari.
“Sehari biasanya habis 500 kilogram ikan giling. Sekarang ini semenjak adanya dapur SPPG, bisa di angka satu ton per hari,” katanya.
Lonjakan hingga dua kali lipat tersebut tentu menjadi angin segar bagi pelaku usaha penggilingan ikan.
Selain meningkatkan pendapatan, peningkatan permintaan juga membuka peluang kerja tambahan bagi masyarakat sekitar yang terlibat dalam proses produksi, pengemasan, hingga distribusi.
Firman menjelaskan bahwa pemesanan ikan giling oleh dapur SPPG tidak selalu dilakukan setiap hari.
Hal tersebut karena menu makanan yang disajikan telah diatur dan disusun oleh ahli gizi di masing-masing dapur.
“Tergantung menunya. Biasanya ahli gizi yang mengeluarkan menu. Yang pasti setiap dapur itu seminggu sekali pasti ada menu ikan,” jelasnya.
Menu berbahan dasar ikan giling pun cukup beragam. Beberapa di antaranya adalah model, tekwan, dempul, hingga siomay.
Menu-menu tersebut dipilih karena kaya akan protein, mudah diolah dalam jumlah besar, serta digemari oleh berbagai kalangan.
Keberadaan SPPG sendiri berperan penting dalam memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
Dengan menu yang disusun oleh tenaga ahli gizi, kualitas makanan yang disajikan lebih terjamin dari sisi kandungan nutrisi.
Terkait harga, Firman menyebutkan bahwa ikan giling dijual dengan harga yang bervariasi tergantung jenisnya.
Untuk ikan giling jenis parang-parang, harga dipatok sebesar Rp40 ribu per kilogram. Sementara itu, ikan giling gabus dijual dengan harga Rp90 ribu per kilogram.