Bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, dan kemiri ditumis sebentar, kemudian dimasukkan ke dalam rebusan ayam bersama serai, daun salam, dan lengkuas.
BACA JUGA:Pisang Tortilla, Kreasi Simpel yang Naik Kelas Jadi Hidangan Istimewa
BACA JUGA:Lumpia Semarang: Warisan Kuliner Perpaduan Budaya yang Tetap Digemari Sepanjang Zaman
Proses ini memakan waktu hingga 2 jam agar semua rempah meresap sempurna.
Tidak kalah penting adalah penyajian. Soto ayam ceker biasanya disajikan dengan nasi putih hangat atau lontong, ditambahkan irisan tomat, seledri, dan bawang goreng.
Sambal rawit dan jeruk nipis menjadi pelengkap wajib yang memberikan rasa pedas dan asam segar, menyeimbangkan kuah yang gurih dan sedikit manis.
Setiap daerah di Indonesia memiliki versi unik soto ayam ceker. Di Surabaya, misalnya, soto disajikan dengan kuah kuning kental, irisan telur rebus, dan suwiran ayam yang melimpah.
Sedangkan di Medan, soto ayam ceker dikenal dengan kuah yang lebih kaya rempah dan sedikit pedas, sering ditambahkan bihun atau kentang rebus.
Meskipun berbeda, semua varian memiliki satu kesamaan: ceker ayam yang kenyal menjadi daya tarik utama.
Fenomena kuliner ini juga mulai masuk ke ranah bisnis modern.
Restoran-restoran kekinian seperti Soto Ceker Nusantara di Jakarta kini menawarkan paket soto ayam ceker lengkap dengan topping kreatif, mulai dari perkedel, bakso, hingga telur asin.
Tidak jarang para food blogger dan penikmat kuliner rela antre demi mencicipi sensasi ceker yang lembut berpadu dengan kuah kaya rempah.
Selain rasanya yang lezat, ceker ayam mengandung kolagen tinggi yang dipercaya baik untuk kulit dan sendi.
Menurut ahli gizi, satu porsi soto ayam ceker dapat membantu memperkuat jaringan ikat dan menjaga elastisitas kulit.
Namun, bagi yang memiliki kolesterol tinggi, konsumsi sebaiknya dibatasi karena kulit ayam dan ceker juga mengandung lemak jenuh.
Tidak hanya itu, soto ayam ceker juga diklaim dapat meningkatkan energi.