Bahkan, beberapa pelaku usaha kuliner mulai berinovasi dengan menghadirkan varian rasa baru, seperti tambahan keju atau aroma pandan, tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
BACA JUGA:Tumis Jamur Kancing Jadi Favorit Baru di Meja Makan Keluarga Indonesia
BACA JUGA:Keripik Pisang, Camilan Tradisional yang Menembus Pasar Modern
Meski demikian, tantangan tetap ada dalam menjaga eksistensi kue lapan jam di tengah gempuran makanan modern dan instan.
Proses pembuatannya yang memakan waktu lama membuat tidak banyak orang yang mau atau mampu membuatnya sendiri.
Selain itu, harga bahan baku yang terus meningkat juga menjadi kendala bagi para pelaku usaha kecil.
Pemerintah daerah dan komunitas pecinta kuliner tradisional pun mulai mengambil langkah untuk melestarikan kue lapan jam.
Berbagai festival makanan khas daerah kerap digelar untuk memperkenalkan kembali kuliner ini kepada masyarakat luas.
Selain itu, pelatihan bagi generasi muda juga dilakukan agar mereka memiliki keterampilan dalam membuat kue tradisional.
Sejumlah pengusaha kuliner di Palembang mengaku bahwa permintaan kue lapan jam cenderung meningkat pada momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadan dan hari raya.
Hal ini menunjukkan bahwa kue ini masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama sebagai hidangan istimewa yang tidak selalu tersedia setiap hari.
Di sisi lain, kehadiran teknologi juga membuka peluang baru dalam pemasaran kue lapan jam.
Penjualan secara daring memungkinkan produk ini menjangkau konsumen di luar daerah, bahkan hingga ke luar negeri.
Dengan kemasan yang lebih modern dan daya tahan yang ditingkatkan, kue lapan jam kini bisa dinikmati oleh lebih banyak orang tanpa harus datang langsung ke Palembang.
Para ahli kuliner menilai bahwa kue lapan jam memiliki potensi besar sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
Keunikan proses pembuatan dan cita rasanya yang khas dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.