Perbankan Perketat Prudential Measures di Tengah Risiko Geopolitik Global

Jumat 27-03-2026,19:28 WIB
Reporter : Rhyca
Editor : Zen Bae

BISNIS, PALPOS.CO - Industri perbankan nasional meningkatkan penguatan kerangka  manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya  risiko global, dipicu eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan  berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah.

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk,  Hery Gunardi, menegaskan bahwa meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator  fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid.

Hal ini tercermin dari  pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang  kuat.

BACA JUGA:Berawal dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Kembangkan Kuliner Tradisional Modern lewat Pemberdayaan BRI

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi  dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat  prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery.

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri  perbankan di Tanah Air.

Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral  dan penguatan early warning system untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas  kredit.

BACA JUGA:BRI Konsisten Dukung Program Perumahan Nasional, Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun hingga Februari 2026

Adapun stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap  kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik dan manufaktur. 

Selain itu, lanjut Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui  pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio  liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR) serta mengelola eksposur  nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi  devisa neto. 

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal  tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih  tinggi,” tambahnya. 

BACA JUGA:Lewat Pameran BRI, Pengusaha Muda Asal Bali Pasarkan Fashion dengan Sentuhan Digital

Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan  mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal  berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah.*

Kategori :