Empat menit berselang, Mohamed Salah menunjukkan kelasnya. Lewat skema serangan cepat, ia menuntaskan peluang dengan dingin. Skor berubah 2-0—sebuah pukulan telak yang membuat Fulham kehilangan arah.
BACA JUGA:Hasil Liga Champions: Barcelona Dipermalukan Atletico Madrid 0-2.
BACA JUGA:Daftar 26 Pemain Timnas Indonesia U-17 untuk Piala ASEAN 2026.
Namun cerita belum selesai.
Memasuki babak kedua, Fulham tampil berbeda. Tim asuhan Marco Silva mulai berani keluar menyerang. Masuknya Sasa Lukic dan Emile Smith Rowe memberi energi baru.
Bahkan, Lukic sempat mencetak gol—meski akhirnya dianulir karena offside.
Tekanan Fulham semakin meningkat. Rodrigo Muniz dan Smith Rowe mendapatkan peluang emas, tetapi penyelesaian akhir menjadi masalah utama.
Statistik menunjukkan Fulham melepaskan 10 tembakan di babak kedua—namun tak satu pun berbuah gol.
Di sisi lain, Liverpool mulai kehilangan dominasi. Peluang Cody Gakpo di awal babak kedua gagal dimaksimalkan. T
empo permainan menurun, dan fokus beralih ke bertahan.
Pergantian pemain dilakukan untuk menjaga keseimbangan. Salah ditarik keluar, digantikan Trey Nyoni, menambah energi di lini tengah.
Dan di sinilah mental Liverpool diuji.
Di tengah tekanan, lini belakang yang dikomandoi Virgil van Dijk tampil disiplin. Tak ada celah. Tak ada kepanikan. Hingga peluit akhir berbunyi, skor tetap 2-0.
Kemenangan ini membawa Liverpool naik ke posisi lima klasemen dengan 52 poin—membuka kembali harapan menuju zona Liga Champions. Sementara Fulham harus puas tertahan di papan tengah.
Lebih dari sekadar hasil, laga ini adalah bukti bahwa Liverpool masih memiliki karakter. Perpaduan pengalaman Salah dan keberanian Ngumoha menjadi sinyal kuat: masa depan dan masa kini The Reds berjalan beriringan.
Dan jika performa ini konsisten, kebangkitan Liverpool bukan lagi sekadar wacana—melainkan ancaman nyata bagi para rival.