Sate Jando, Kuliner Khas Sunda yang Kian Digemari Generasi Muda

Senin 11-05-2026,10:35 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Bambang

Kandungan lemak yang cukup tinggi dinilai dapat berdampak pada kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Dokter gizi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, dr. Rina Prameswari, mengatakan bahwa makanan berbahan dasar lemak hewani sebaiknya dikonsumsi secukupnya dan diimbangi dengan pola makan sehat.

“Sate jando boleh saja dinikmati, tetapi jangan terlalu sering. Perbanyak sayur dan air putih agar asupan tubuh tetap seimbang,” ujarnya.

Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme masyarakat. Banyak pembeli rela mengantre demi menikmati sate jando yang baru matang dari pembakaran arang.

Aroma khas yang muncul saat proses pembakaran menjadi salah satu daya tarik utama kuliner ini.

Seorang pengunjung asal Jakarta, Nabila Putri (24), mengaku sengaja datang ke Bandung setelah melihat ulasan sate jando di media sosial. Ia penasaran dengan rasa sate yang disebut berbeda dari sate ayam maupun sate kambing.

“Awalnya saya kira bakal enek karena lemak semua, ternyata malah enak dan lembut. Sambalnya juga cocok banget,” kata Nabila.

Pemerintah daerah pun mulai melihat potensi sate jando sebagai bagian dari wisata kuliner lokal. Beberapa festival makanan tradisional di Jawa Barat kini memasukkan sate jando sebagai salah satu menu unggulan untuk menarik wisatawan.

Dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, sate jando diprediksi akan terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri kuliner modern.

Kuliner sederhana yang dahulu hanya dikenal di kalangan masyarakat lokal kini perlahan menjelma menjadi ikon kuliner khas Sunda yang diminati berbagai kalangan.

Kehadiran sate jando tidak hanya memperkaya ragam kuliner Nusantara, tetapi juga menjadi pengingat bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Kategori :