Bahkan, dalam waktu dekat Pemkab OKU akan menggandeng perusahaan dan pelaku usaha agar pelatihan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan industri.
BACA JUGA:Polres OKU Cegah Praktik Prostitusi dan TPPO
BACA JUGA:Kabupaten OKU Terima Bantuan Sapi Kurban dari Presiden RI
“Kedepan kita akan undang seluruh perusahaan dan pelaku usaha di OKU untuk mengetahui tenaga kerja seperti apa yang mereka butuhkan. Jadi pelatihannya tepat sasaran dan tidak sia-sia,” katanya.
Menurut Teddy, keberadaan lembaga kursus selama ini telah menjadi solusi alternatif untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal sekaligus menekan angka pengangguran.
Sementara itu, Ketua Himpunan Penyelenggara Kursus Indonesia (HIPKI) Sumsel, Aprili Mauludin, didampingi Ketua Ikatan Lembaga Kursus OKU, Iswadi Ahmad, mengapresiasi perhatian besar Pemkab OKU terhadap pengembangan pendidikan keterampilan.
“Hari ini ada 315 peserta dari 17 lembaga kursus yang mengikuti pembukaan serentak. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati atas dukungan dan bantuannya,” ujar Aprili.
Ia menjelaskan, Program PKK difokuskan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai dengan kompetensi tertentu, sedangkan PKW diarahkan untuk melahirkan pelaku usaha baru yang kreatif dan mandiri.
“PKK membentuk tenaga kerja yang siap bersaing sesuai kebutuhan dunia kerja. Sedangkan PKW menciptakan wirausaha baru,” jelasnya.
Berbagai pelatihan disiapkan dalam program tersebut, mulai dari menjahit, komputer, tata boga, pengelasan, hingga fotografi dan videografi.
Lokasi lembaga kursus pun tersebar di sejumlah wilayah, tidak hanya di Kota Baturaja, tetapi juga hingga Kecamatan Lengkiti dan Sinar Peninjauan.
Program ini diharapkan mampu membuka peluang kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan lahirnya pelaku UMKM baru di Kabupaten OKU. (len)