MUARA ENIM, PALPOS.CO - Tradisi Melemang sebagai warisan budaya leluhur masih terus dilestarikan masyarakat Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim.
Tradisi tahunan ini kembali digelar menjelang malam 10 Muharram 1448 H atau Hari Asyura dan menjadi momen yang dinantikan warga maupun pendatang.
Melemang merupakan tradisi membuat lemang, makanan khas berbahan dasar beras ketan putih maupun ketan hitam yang dimasak menggunakan bambu dan dibakar hingga matang.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan, mulai dari menyiapkan bahan, mengaron, mengukus, hingga membakar bambu dalam waktu yang cukup lama.
BACA JUGA:Sumarni Dukung Perjuangan 50 Kafilah Daerah
BACA JUGA:Yamaha vs Honda, IRT Tewas Dilokasi Kejadian
Setiap kali tradisi Melemang digelar, suasana Desa Karang Raja berubah menjadi lebih ramai.
Jalan-jalan desa dipadati kendaraan, sementara masyarakat dari berbagai daerah berdatangan untuk mencicipi lemang khas yang telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Melemang mengandung nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat silaturahmi antarwarga.
BACA JUGA:Pertanyakan Tunjangan Non Sertifikasi Guru 2025 Belum Dibayar
BACA JUGA:Empat Rumah Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp856 Juta
Gustandi Putra (42), warga Dusun I Desa Karang Raja, mengatakan tradisi Melemang telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu dan masih terus dipertahankan hingga saat ini.
"Setiap keluarga melaksanakan tradisi Melemang ini di rumah masing-masing ataupun bergabung bersama-sama," ujarnya, Rabu malam, 24 Juni 2026.
Menurutnya, proses pembuatan lemang diawali dengan menyiapkan sejumlah bahan utama seperti bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan.