"Untuk bahannya yang paling utama tentu bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan. Sedangkan varian lemang umumnya udang, pisang, dan durian," katanya.
BACA JUGA:Sumarni Lepas Kafilah MTQ, Targetkan Masuk Tiga Besar
BACA JUGA:Dua Pelajar Alami Kecelakaan Maut, Satu Tewas Terlindas Truk
Dijelasknya, tradisi Melemang juga menjadi momentum penting untuk mempertemukan kembali anggota keluarga yang selama ini tinggal berjauhan.
"Jadi keluarga-keluarga jauh berkumpul di momen Melemang 10 Muharram ini. Kita juga mengundang kerabat dan rekan kerja untuk bersama-sama menikmati lemang," tuturnya.
Ia berharap generasi muda dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan para leluhur tersebut. "Utamanya agar tetap mengingat leluhur dan menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh," harapnya.
Hal senada disampaikan Jaya (30), warga Kota Palembang, yang sengaja berkunjung ke Desa Karang Raja untuk menyaksikan tradisi Melemang.
Karena memang sudah jadi tradisi sekaligus kita silaturahmi dengan keluarga yang ada di Desa Karang Raja,"ujarnya.
Jaya mengungkapkan, momen Melemang ini sudah seperti lebaran karena setahun sekali, berkumpul dan makan lemang bersama-sama keluarga.
"Momennya bahkan lebih ramai sampai membuat jalanan padat dan macet panjang karena antusiasme tradisi Melemang ini," ungkapnya.
Jaya berharap tradisi Melemang sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Karang Raja dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
"Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi Melemang tidak hanya menjadi perayaan menyambut 10 Muharram, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan penghormatan masyarakat Karang Raja terhadap warisan budaya leluhur," pungkasnya.(ozi)