Iklan Astra Motor

Asap Karhutla dan Hak atas Kesehatan

Asap Karhutla dan Hak atas Kesehatan

Dr. Asmaripa Ainy, S.Si., M.Kes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya.--ist

Informasi luas lahan terbakar, titik panas, kualitas udara, jumlah kunjungan fasilitas kesehatan, serta kondisi kelompok rentan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap jika dimanfaatkan secara bersama.

Namun, data tidak akan banyak membantu apabila hanya berhenti sebagai laporan. Data perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ketika kualitas udara memburuk di suatu wilayah, misalnya, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan puskesmas, menyampaikan peringatan kepada sekolah, atau mengingatkan kelompok rentan agar mengambil langkah perlindungan. 

Jika kunjungan akibat gangguan pernapasan meningkat, fasilitas kesehatan dapat menilai kebutuhan tambahan sesuai kondisi yang dihadapi.

BACA JUGA:Ketika Hutan Terbakar, Hak Masyarakat atas Udara Bersih Dipertaruhkan

Tentu saja, peningkatan keluhan kesehatan tidak boleh langsung dianggap seluruhnya disebabkan oleh karhutla. 

Analisis perlu mempertimbangkan faktor lain dan menggunakan data yang memadai. Namun, menghubungkan informasi lingkungan dan kesehatan dapat membantu pemerintah mengenali pola risiko serta menentukan prioritas tindakan.

Dengan cara ini, pengalaman menghadapi karhutla tidak hanya menjadi catatan tahunan, tetapi juga sumber pembelajaran untuk memperkuat kebijakan pada masa mendatang.

Keberhasilan tidak cukup dihitung dari api yang padam

Karhutla merupakan persoalan kompleks yang membutuhkan kerja bersama. Penanganannya berkaitan dengan kondisi lingkungan, pengelolaan lahan, perilaku manusia, kegiatan ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan kesiapan sistem kesehatan. Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikannya sendirian.

Karena itu, pembahasan karhutla sebaiknya tidak berhenti pada pencarian pihak yang harus disalahkan. 

Evaluasi tetap diperlukan agar tanggung jawab dan perbaikan dapat dilakukan, tetapi evaluasi perlu diarahkan pada solusi, bukan sekadar saling menyudutkan.

Upaya pencegahan kebakaran harus berjalan bersama pengendalian di lapangan. Pada saat yang sama, sistem kesehatan perlu memastikan masyarakat memperoleh informasi, perlindungan, dan pelayanan yang dibutuhkan. 

Keduanya bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan bagian dari penanganan yang saling melengkapi.

Keberhasilan penanganan karhutla perlu dilihat melalui ukuran yang lebih luas. Berapa luas lahan yang terbakar dan seberapa cepat api dikendalikan tetap merupakan indikator penting. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait