Iklan Astra Motor

Asap Reda, Ekonomi Harus Menyala: Jalan Pulih Sumsel Menuju Nataru dan Ramadan

Asap Reda, Ekonomi Harus Menyala: Jalan Pulih Sumsel Menuju Nataru dan Ramadan

Ilustrasi strategi pemulihan ekonomi Sumatera Selatan pascakarhutla menjelang Nataru 2026-Foto : Alditya Aris Rinandy-

Jika dulu bisa, sekarang pun bisa. 

Maskapai, pengelola tol, dan hotel juga perlu menyiapkan sistem informasi cepat agar wisatawan tidak bingung bila kondisi berubah mendadak.

Pariwisata sebenarnya punya ruang tumbuh yang besar. 

BPS Sumsel menilai sektor ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah dominasi pertanian, pertambangan, serta minyak dan gas. 

Syaratnya, daya saing destinasi dan kualitas layanan harus diperkuat, dan wisatawan didorong menginap lebih lama. 

Artinya, pemulihan bukan sekadar mengembalikan angka kunjungan seperti sebelum asap, melainkan kesempatan membenahi wisata Sumsel agar lebih menarik dan lebih tahan terhadap gangguan.

Setelah Nataru, peluang yang lebih besar menanti. 

Awal Ramadan 1448 H diperkirakan jatuh pada 8 Februari 2027, dan Idulfitri sekitar 9 atau 10 Maret, menunggu keputusan resmi pemerintah. 

Libur Lebaran yang panjang akan menggerakkan mudik, belanja, dan pembelian oleh-oleh.

Di sinilah kuliner Palembang bersinar. Dari sekitar 39 ribu UMKM terdaftar di kota ini, hampir 30 persen bergerak di bidang kuliner. 

Pempek, tekwan, model, kue basah, dan kue kering Lebaran adalah mesin ekonomi rakyat yang bekerja setiap hari. 

Data yang pernah dirilis Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sekitar 3.000 pelaku usaha pempek di Palembang, tersebar di 18 kecamatan. 

Bayangkan dampaknya bila setiap usaha itu menambah tenaga kerja selama Ramadan, membeli bahan dari pemasok lokal, dan mengemas produknya dengan baik. 

Perputaran uangnya akan terasa sampai ke pasar tradisional dan para pemasok ikan.

Pelaku usaha bisa mulai bersiap sejak Januari. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait