Asap Reda, Ekonomi Harus Menyala: Jalan Pulih Sumsel Menuju Nataru dan Ramadan
Ilustrasi strategi pemulihan ekonomi Sumatera Selatan pascakarhutla menjelang Nataru 2026-Foto : Alditya Aris Rinandy-
Buka pra-pesan lebih awal, siapkan paket hampers, kembangkan pempek beku agar bisa dikirim ke luar kota, dan manfaatkan toko daring supaya omzet tidak hanya bergantung pada ramainya pengunjung.
Pelajaran dari masa pandemi menunjukkan bahwa pemasaran digital membantu usaha kecil tetap bertahan ketika pembeli sulit datang.
Namun di tengah optimisme itu, ada satu tantangan yang sering luput dari perhatian: harga pangan.
Pada September 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37 persen secara tahunan.
Bank Indonesia juga mencatat inflasi pangan bergejolak mencapai 5,03 persen, dengan tekanan yang berpotensi terjadi di Sumatra.
Bagi pedagang kuliner, ini berarti bahan baku bisa mahal justru ketika pesanan Ramadan memuncak.
Omzet naik, tetapi untung bisa tipis.
Solusinya tidak bisa dibebankan kepada pedagang sendirian.
Pemerintah daerah bersama tim pengendali inflasi perlu menjaga pasokan, memperlancar distribusi dari daerah surplus lewat kerja sama antardaerah seperti yang didorong BI, dan menggelar pasar murah menjelang Ramadan.
Pedagang pun bisa mengamankan stok bahan tahan lama lebih awal atau berbelanja bersama dalam kelompok agar mendapat harga lebih baik.
Semua langkah itu hanya akan berhasil jika dikerjakan bersama.
Kebangkitan ekonomi pascakarhutla tidak bisa hanya diserahkan kepada satu pihak.
Pemerintah bisa menghadirkan keringanan usaha, akses modal kerja, dan bazar UMKM yang konsisten, bukan sekadar seremoni.
Dunia usaha bisa membeli produk lokal, menjalin kemitraan dengan pelaku kecil, dan ikut mempromosikan Sumsel.
Media dan warga punya peran juga: katakan dengan jujur ketika udara sudah bersih, dan jujur pula ketika masalah belum selesai.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


