Asap Reda, Ekonomi Harus Menyala: Jalan Pulih Sumsel Menuju Nataru dan Ramadan
Ilustrasi strategi pemulihan ekonomi Sumatera Selatan pascakarhutla menjelang Nataru 2026-Foto : Alditya Aris Rinandy-
Kepercayaan dibangun dari kejujuran.
Kolaborasi lintas lembaga sebenarnya pernah dirancang di Sumsel.
Program Beli Kreatif, misalnya, digagas bersama Kemenparekraf, Pemprov Sumsel, dan Bank Indonesia untuk mendorong UMKM yang jumlahnya sekitar 650 ribu dan menyerap 93 persen tenaga kerja daerah.
Semangat serupa layak dihidupkan kembali, kali ini dengan fokus pada pelaku usaha yang terdampak asap.
Sebagai warga, cara paling sederhana mendukung pemulihan sudah ada di depan mata.
Beli pempek langsung dari pembuatnya, menginap di hotel lokal, dan ajak teman dari luar kota berkunjung.
Pada akhirnya, karhutla mengajarkan satu hal: ekonomi yang kuat membutuhkan udara yang bersih.
Hujan memang sudah mulai turun, tetapi kebangkitan tidak akan datang dengan sendirinya.
Ia lahir dari persiapan Nataru yang matang, strategi Ramadan yang cerdas, harga pangan yang terkendali, dan komitmen untuk memastikan api tidak kembali.
Jika semua itu berjalan, kabut yang kemarin menutupi Jembatan Ampera bisa menjadi titik balik.
Ia akan menjadi bukti bahwa Sumsel mampu bangkit, lebih siap, dan lebih tangguh menghadapi kemarau berikutnya.(*)
*)Alditya Aris Rinandy, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


