Luwu Raya Bersama Bugis Timur: Melangkah Menuju Daerah Otonomi Baru di Sulsel

Luwu Raya Bersama Bugis Timur: Melangkah Menuju Daerah Otonomi Baru di Sulsel

Luwu Raya Bersama Bugis Timur: Melangkah Menuju Daerah Otonomi Baru di Sulsel.-Palpos.id-Dokumen Palpos.id

Luas wilayah administrasi Kota Palopo mencapai sekitar 247,52 kilometer persegi, setara dengan 0,39% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. 

Kota ini terdiri atas sembilan kecamatan dan 48 kelurahan, sebagian besar berada di dataran rendah pesisir pantai.

Penduduk Kota Palopo sangat beragam, terdiri dari Suku Bugis, Jawa, dan Konjo Pesisir, dengan tambahan kecil dari Suku Toraja, Minangkabau, Batak, dan Melayu.

Fakta Menarik Kota Palopo:

Nama Palopo: Nama Palopo mulai digunakan sejak tahun 1604 bersamaan dengan pembangunan Masjid Jami' Tua. 

BACA JUGA:Pemekaran Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan: Kota Palopo Calon Ibukota Provinsi Luwu Raya

BACA JUGA:Menggali Kebudayaan yang Terlupakan: Agama Tolotang di Sulawesi Selatan

"Palopo" diambil dari bahasa Bugis-Luwu, memiliki arti penganan dari ketan, gula merah, dan santan atau tancapkan/masukkan.

Ikan dan Rumput Laut: Palopo berbatasan langsung dengan Teluk Bone, yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian. 

Produksi rumput laut, khususnya Gracilaria, menjadi komoditas unggulan dengan kualitas terbaik yang diekspor ke luar negeri melalui Pelabuhan Tanjung Ringgit.

Bukit Kambo: Bukit Kambo, terletak di Kecamatan Mungkajang, menjadi daya tarik utama dengan keindahan alamnya dan menjadi penghasil kerajinan tangan serta gula merah terkenal. Bukit Kambo masuk nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.

BACA JUGA:Update Terkini! Pemekaran Wilayah Sulawesi Selatan: Transformasi Menjadi Tiga Provinsi Baru

BACA JUGA:Pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan: Rencana Pembentukan Dua Kabupaten Baru Menyongsong Masa Depan

Masjid Jami Tua: Merupakan peninggalan Kerajaan Luwu, dibangun pada tahun 1604 oleh Raja Luwu Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Masjid ini memiliki atap tumpang tiga dan mustaka berbahan keramik Tiongkok jenis Ming.

Kuliner Khas: Masyarakat Palopo mengolah ikan sebagai bahan utama kuliner khas, seperti Pacco yang disajikan mirip sashimi. Kuliner ini mencakup berbagai jenis ikan seperti bandeng, lamuru, kakap, dan lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: