Skandal BBM Oplosan : Dirut PT Pertamina Patra Niaga Jadi Tersangka, Warga Lubuklinggau Kecewa

Skandal BBM Oplosan : Dirut PT Pertamina Patra Niaga Jadi Tersangka, Warga Lubuklinggau Kecewa-foto:dokumen palpos-
Dengan kondisi seperti sekarang dimana banyak cecerut yang beranak pinak di PT Pertamina, sudah seharusnya Pemerintah melakukan bersih-bersih.
"Cuci semua setiap bagian, bukan hanya PT Pertamina Niaga, namun dari hulu sampai hilir juga harus dicuci bersih, agar Pertamina tidak terus merugi," tegas Jamil dengan berang.
BACA JUGA:Buat SKCK 2025 : Tanpa Ribet Gak Pakai Antri Lama, Begini cara dan syaratnya !
BACA JUGA:Warga Jalan A Yani Lubuklinggau Ditemukan Meninggal di Pohon, Diduga Ini Penyebabnya !
Ditambahkan Jamil, wajar saja PT Pertamina terus merugi.
"Teknis penasaran Pertamina selama ini kalah dengan pedagang kaki lima yang selalu untung dalam memasarkan BBM jenis apapun, tetapi PT Pertamina Niaga selalu merugi ternyata bukannya tak mengerti teknik marketing tetapi terlalu banyak cecerut di dalamnya," kata Jamil.
Jamil juga meminta Pertamina untuk bertanggung jawab tidak saja secara hukum, tetapi juga secara sosial harus meminta maaf secara terbuka dan membayar ganti rugi konsumen Pertamax selama ini.
"Yang dirugikan disini bukan hanya negara, tapi masyarakat yang telah bersusah payah memberikan dukungan dengan membeli BBM non subsidi yang telah dicurangi selama ini," tegasnya.
Sementara itu, Penetapan
Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi oleh Kejaksaan Agung (Kejagung), diumumkan langsung oleh Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Abdul Qohar, pada Pres rilis, Selasa (25/02/2025).
Dalam kesempatan itu, Kejagung juga menyebutkan bahwa dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang periode 2018-2023, membuat negara mengalami kerugian hingga Rp 193,7 triliun.
Penetapan status Riva Siahaan sebagai tersangka juga bersamaan dengan beberapa tersangka lainnya.
Selain Riva Siahaan, Kejagung juga menetapkan 6 tersangka lainnya yakni SDS, Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional; YF, pejabat di PT Pertamina International Shipping; AP, VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional; MKAN, beneficial owner PT Navigator Khatulistiwa; DW, Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim; dan GRJ, Komisaris PT Jenggala Maritim serta Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
Jadi total tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang periode 2018-2023, yang membuat negara merugi hingga Rp 193,7 triliun, menjadi tujuh tersangka.*
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: