Asap Reda, Ekonomi Harus Menyala: Jalan Pulih Sumsel Menuju Nataru dan Ramadan
Ilustrasi strategi pemulihan ekonomi Sumatera Selatan pascakarhutla menjelang Nataru 2026-Foto : Alditya Aris Rinandy-
Oleh : Alditya Aris Rinandy, SE, MM*
HUJAN deras yang mengguyur Palembang pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026, terasa seperti hadiah yang lama ditunggu.
Keesokan paginya, kabut asap yang berbulan-bulan menyelimuti kota mulai menipis.
Warga akhirnya bisa membuka jendela tanpa batuk.
Namun lega saja tidak cukup.
BACA JUGA:Karhutla tak Kunjung Usai: Saatnya Mengubah Kebiasaan dan Cara Kita Bertindak
Asap boleh pergi, tetapi dampaknya masih tertinggal di buku kas pedagang, kamar hotel yang kosong, dan warung yang sepi pembeli.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi kapan asap hilang, melainkan seberapa cepat ekonomi kita bangkit.
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat dulu seberapa dalam lukanya.
Foto kabut di Jembatan Ampera mudah viral, tetapi kerugian ekonominya jarang terlihat.
BACA JUGA:Menagih Janji Sebuah Merek Bernama Pemerintah Daerah Dalam Penanganan Karhutla
Pada pertengahan Oktober, jarak pandang di Palembang hanya 50 sampai 100 meter.
Indeks PM2.5 sempat menyentuh angka 991, kategori berbahaya menurut IQAir.
Belasan penerbangan di Bandara SMB II terganggu, dan pada September ruas tol Palembang–Prabumulih sempat ditutup karena jarak pandang nyaris nol.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


