Kerak Telor : Warisan Kuliner Betawi yang Terus Bertahan di Tengah Modernisasi

Minggu 19-10-2025,08:00 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Rhyca

“Ada gurih dari telur, ada manis dari kelapa, pedas dari cabai, dan tekstur renyah dari ketan. Semua menyatu, kayak hidup orang Betawi yang guyub dan beragam tapi tetap harmonis.”

 

 

Meski tetap eksis, eksistensi kerak telor tak bisa dibilang aman. Modernisasi dan masuknya berbagai makanan cepat saji dari luar negeri membuat generasi muda kurang mengenal makanan tradisional ini.

Di samping itu, regenerasi pedagang kerak telor juga menjadi tantangan tersendiri.

 

H. Slamet, seorang pedagang kerak telor yang sudah berjualan sejak 1990-an, mengungkapkan kekhawatirannya.

“Anak-anak sekarang lebih suka burger sama pizza. Padahal kerak telor itu lebih sehat, tanpa pengawet, dan bahan-bahannya alami,” ujarnya sambil tersenyum.

 

Ia juga mengaku kesulitan mencari penerus. “Anak saya nggak mau nerusin. Katanya capek, panas, dan nggak kekinian. Padahal penghasilan lumayan kalau pas ramai, apalagi kalau ada acara besar.”

 

Namun, di balik tantangan tersebut, muncul secercah harapan. Sejumlah komunitas kuliner dan pelaku UMKM mulai mengangkat kembali kerak telor sebagai bagian dari gaya hidup lokal yang berkelas.

Bahkan, beberapa restoran modern di Jakarta sudah memasukkan kerak telor ke dalam menu mereka dengan sentuhan baru tanpa mengubah rasa autentiknya.

 

 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tak tinggal diam. Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta gencar mengadakan pelatihan pembuatan kerak telor untuk generasi muda, termasuk di sekolah-sekolah dan sanggar seni.

Kategori :