Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk doa dan harapan agar terhindar dari mara bahaya serta memperoleh keselamatan.
BACA JUGA:Ikan Patin Sambal Kemangi, Perpaduan Cita Rasa Nusantara yang Kian Digemari
Hingga kini, sebagian masyarakat masih melestarikan tradisi tersebut, terutama pada momen-momen tertentu yang dianggap penting.
Di era modern, sayur lodeh tidak hanya ditemukan di rumah-rumah warga, tetapi juga mulai masuk ke restoran dan rumah makan, baik yang menyajikan masakan tradisional maupun konsep kuliner modern.
Beberapa restoran bahkan melakukan inovasi dengan menambahkan bahan baru atau menyajikannya dengan tampilan yang lebih menarik tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Hal ini menunjukkan bahwa sayur lodeh mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Salah satu pelaku usaha kuliner di Jakarta, Siti Rahmawati, mengaku tetap menjadikan sayur lodeh sebagai menu andalan di rumah makannya.
“Banyak pelanggan yang rindu masakan rumah. Sayur lodeh itu rasanya sederhana, tapi justru di situ letak kekuatannya,” ujarnya.
Menurutnya, konsumen dari berbagai usia masih menyukai sayur lodeh karena rasanya yang akrab dan menenangkan.
Dari sisi kesehatan, sayur lodeh juga memiliki nilai gizi yang cukup baik. Kandungan berbagai sayuran di dalamnya menyediakan serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Meski menggunakan santan, jika dikonsumsi secara seimbang, sayur lodeh tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat.
Beberapa orang bahkan mengganti santan kental dengan santan encer untuk mengurangi kadar lemak.
Namun demikian, keberadaan sayur lodeh juga menghadapi tantangan. Perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di perkotaan, membuat generasi muda cenderung lebih memilih makanan instan.
Tidak sedikit anak muda yang kurang mengenal masakan tradisional, termasuk sayur lodeh.
Oleh karena itu, diperlukan peran keluarga, komunitas, dan pelaku kuliner untuk terus mengenalkan dan melestarikan hidangan ini.
Pemerhati budaya menilai bahwa makanan tradisional seperti sayur lodeh bukan sekadar soal rasa, tetapi juga identitas bangsa. Melalui makanan, nilai-nilai budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.