Selain tampil menarik, fruit sando dianggap lebih “ringan” dibandingkan dessert berbasis cokelat atau keju, sehingga cocok untuk konsumen yang mencari camilan manis tanpa rasa enek.
BACA JUGA:Mochi Susu Homemade, Camilan Lembut Favorit Anak hingga Orang Dewasa
BACA JUGA:Segarnya Es Lumut Puding, Minuman Favorit Pelepas Dahaga Siang Hari dan Menu Takjil Ramadhan
“Fruit sando itu simpel tapi elegan. Bahannya mudah, tapi teknik penyusunan buah dan keseimbangan rasa krim sangat menentukan,” ujar Rina Mahardika, pemilik sebuah toko roti artisan di Jakarta Selatan.
Menurutnya, tantangan terbesar justru menjaga kesegaran buah dan konsistensi krim agar tidak terlalu manis. “Konsumen sekarang lebih suka rasa yang clean dan segar,” tambahnya.
Selain aspek rasa, nilai estetika menjadi faktor penting dalam kesuksesan fruit sando. Banyak penjual menekankan presentasi, mulai dari pemilihan buah berwarna kontras hingga teknik pemotongan yang presisi.
Beberapa bahkan menyesuaikan desain fruit sando dengan tema musiman, seperti edisi Valentine dengan stroberi berbentuk hati atau edisi Ramadan dengan buah tropis.
Dari sisi gizi, fruit sando juga menawarkan keunggulan tertentu. Kandungan buah segar memberikan vitamin dan serat, sementara krim susu menyumbang protein dan lemak.
Meski tetap tergolong dessert, fruit sando kerap dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih “seimbang” dibandingkan kue manis berkalori tinggi.
Namun, ahli gizi tetap mengingatkan agar konsumsi dilakukan secara wajar, terutama bagi mereka yang membatasi asupan gula dan lemak.
Fenomena fruit sando turut membuka peluang ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM. Modal yang relatif terjangkau dan proses produksi yang tidak terlalu rumit membuat bisnis ini mudah dijalankan dari rumah.
Banyak penjual memulai dengan sistem pre-order untuk menjaga kualitas dan meminimalkan risiko kerugian.
Platform digital dan layanan pesan-antar juga berperan besar dalam memperluas jangkauan pasar.
“Awalnya saya coba jual ke teman-teman kantor, ternyata responsnya bagus. Dari situ berkembang lewat Instagram,” kata Andi Pratama, pelaku usaha fruit sando rumahan di Bandung.
Dalam sebulan, ia mengaku bisa menjual ratusan potong fruit sando dengan variasi menu yang terus diperbarui. “Kuncinya inovasi dan konsisten,” ujarnya.
Meski demikian, persaingan di pasar fruit sando semakin ketat. Untuk bertahan, pelaku usaha dituntut kreatif, baik dari segi rasa, kemasan, maupun strategi pemasaran.