Meski berbeda, ciri khas bacem tetap terjaga melalui penggunaan gula merah dan rempah-rempah tradisional.
BACA JUGA:Tahu Isi Ayam Suwir, Camilan Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Tren Kuliner Modern
BACA JUGA:Begini Cara Buat Kroket Kentang Daging Gurih dan Lembut
Keberadaan tempe bacem juga tak lepas dari peran tempe sebagai sumber protein nabati yang terjangkau.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola makan sehat dan ramah lingkungan, tempe kembali mendapatkan perhatian.
Kandungan protein tinggi, serat, serta hasil fermentasi yang baik untuk pencernaan menjadikan tempe, termasuk tempe bacem, relevan dengan gaya hidup masa kini.
“Tempe bacem itu sederhana, tapi gizinya tinggi. Kalau dimasak dengan benar, tetap sehat meskipun digoreng sebentar,” kata Siti Aminah, pedagang tempe bacem di Pasar Beringharjo.
Setiap hari, ia bisa menjual puluhan potong tempe bacem kepada pembeli dari berbagai kalangan, mulai dari warga lokal hingga wisatawan.
Tak hanya dijual di pasar tradisional, tempe bacem kini juga hadir di restoran, rumah makan, hingga katering modern.
Beberapa pelaku usaha kuliner bahkan mengemas tempe bacem dalam bentuk siap saji atau vakum untuk oleh-oleh.
Inovasi ini membuat tempe bacem mampu bersaing di tengah industri makanan yang semakin kompetitif.
Media sosial turut berperan dalam mengangkat kembali popularitas tempe bacem. Banyak konten kreator kuliner yang membagikan resep, ulasan, hingga cerita sejarah tempe bacem, sehingga menarik minat generasi muda.
Dengan tampilan yang lebih modern namun tetap mempertahankan cita rasa asli, tempe bacem berhasil menembus batas generasi.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Perubahan selera, masuknya makanan instan, serta anggapan bahwa makanan tradisional kurang praktis menjadi hambatan tersendiri.
Namun para pelaku usaha dan pecinta kuliner tradisional optimistis tempe bacem akan tetap bertahan.
“Selama masih ada tempe dan gula merah, tempe bacem tidak akan hilang,” ujar Budiyanto optimistis.