Arem-Arem, Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Makanan Modern

Senin 02-02-2026,10:33 WIB
Reporter : Dahlia
Editor : Rhyca

Harga arem-arem yang relatif murah menjadi salah satu daya tarik utamanya. Dengan kisaran harga antara Rp2.000 hingga Rp5.000 per buah, makanan ini menjadi pilihan ekonomis bagi masyarakat.

BACA JUGA:Kue Wajik Ketan, Warisan Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

BACA JUGA:Onde-Onde, Jajanan Tradisional yang Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Di tengah naiknya harga bahan pokok, banyak penjual yang tetap mempertahankan harga dengan menyesuaikan ukuran atau isian agar pelanggan tidak beralih ke makanan lain.

Selain faktor harga, aroma daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus turut memberi cita rasa khas.

Daun pisang tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus alami, tetapi juga memberikan aroma wangi saat arem-arem dikukus.

Hal ini menjadi keunggulan tersendiri yang sulit ditiru oleh makanan modern dengan kemasan plastik atau kertas.

Di era media sosial, arem-arem juga mulai mendapat perhatian baru. Sejumlah pelaku usaha kuliner mencoba melakukan inovasi tanpa meninggalkan ciri khas aslinya.

Variasi isian seperti rendang, ayam pedas, hingga jamur untuk vegetarian mulai diperkenalkan. Bahkan, ada pula arem-arem dengan tampilan lebih modern yang dikemas secara higienis untuk dipasarkan secara daring.

Pengamat kuliner Nusantara, Budi Santoso, menilai fenomena ini sebagai tanda positif bagi pelestarian makanan tradisional.

“Inovasi itu penting, tapi identitas rasa dan filosofi harus tetap dijaga. Arem-arem bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari memori kolektif masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa makanan tradisional memiliki peluang besar untuk bersaing jika dikemas dengan baik dan dipromosikan secara konsisten.

Namun, tantangan tetap ada. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada makanan cepat saji dan tren kuliner luar negeri.

Oleh karena itu, diperlukan peran keluarga dan lingkungan untuk mengenalkan kembali makanan tradisional sejak dini.

Memasukkan arem-arem sebagai bagian dari konsumsi harian atau kegiatan sekolah bisa menjadi langkah sederhana namun efektif.

Pemerintah daerah di beberapa wilayah juga mulai mendukung pelestarian kuliner tradisional melalui festival makanan dan pelatihan UMKM.

Kategori :