Bahkan hingga kini, unsur pantomim masih sering ditemui dalam hiburan modern maupun pertunjukan komedi.
BACA JUGA:Dorong Sportivitas, Sekda Sumsel Resmi Buka Turnamen Sepak Bola RS Siti Fatimah 2026.
BACA JUGA:Kanwil Kemenkum Sumsel Hadirkan Perspektif Regulatif dalam Seminar Nasional RUU Lingkungan Hidup
Sawal menyebut tokoh pantomim Indonesia seperti Septian Dwi Cahyo menjadi inspirasi bagi banyak pelaku seni di daerah.
“Karakter tukang gunting bisu yang dimainkan Septian Cahyo dulu sangat terkenal dan membuat banyak orang tertarik mengenal pantomim,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, pada masa lampau para seniman pantomim sering tampil di pasar-pasar sebagai hiburan rakyat sebelum akhirnya berkembang ke panggung seni modern dan sekolah-sekolah.
Pelaku seni Pantomim lainnya, Yus Sudasom atau disapa Sonop, mengenang dirinya mulai mengenal pantomim sejak tahun 1981.
Saat itu, pertunjukan pantomim kerap mengisi acara ulang tahun anak-anak hingga hiburan sekolah.
Menurutnya, keterbatasan perlengkapan tidak menghalangi kreativitas para seniman pantomim pada masa itu.
“Dulu make up pakai sagu dicampur minyak sayur atau minyak kelapa. Kadang dicampur bedak bayi supaya bisa menempel di wajah,” katanya.
Sementara itu, Wak Dolla yang mulai mengenal pantomim sejak masih duduk di bangku SD sekitar tahun 1989 mengaku awal mula tertarik setelah sering menonton tayangan pantomim di televisi.
“Dulu referensi pantomim masih sedikit. Kami banyak belajar dari TV dan melihat penampilan Septian Cahyo,” ujarnya.
Menurut Ahmad Joni Arla atau akrab disapa Wak Dolla, pantomim menjadi seni yang cocok untuk anak-anak yang kesulitan menghafal dialog panjang karena lebih menitikberatkan pada ekspresi dan gerakan tubuh.
“Pantomim cocok untuk anak-anak yang susah menghafal karena mereka bisa berekspresi lewat gerakan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, dahulu para pelaku seni pantomim aktif mendatangi sekolah-sekolah untuk memperkenalkan seni tersebut kepada siswa dan guru.
Eksistensi pantomim kini terus terjaga melalui ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) yang rutin digelar di berbagai daerah, termasuk di Kota Palembang.