LUBUKLINGGAU, PALPOS.CO - Suasana di SPBU Pertamina 24.316.51 yang berada di Jalan A Yani, Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau, Jumat malam (3/7/2026), mendadak memanas setelah konsumen memprotes penghentian penjualan BBM subsidi jenis Pertalite.
Peristiwa tersebut disiarkan secara langsung oleh konsumen tersebut melalui media social dengan akun Putri Wonk dan viral di media social dan dilihat puluhan ribu warga net usai rekaman video adu argumen antara konsumen dan petugas SPBU beredar luas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden bermula saat sejumlah pengendara telah mengantre untuk mengisi Pertalite.
Namun, ketika giliran salah satu kendaraan tiba, petugas SPBU menyampaikan bahwa stok Pertalite telah habis sehingga pengisian tidak dapat dilanjutkan.
BACA JUGA:Sertijab 5 Perwira Polres Lubuklinggau, Kapolres Minta Pejabat Baru Langsung Tancap Gas
BACA JUGA:Sanksi Sosial Mulai Diterapkan, Kejari Lubuklinggau Uji Efektivitas Hukuman Kerja Sosial
Pernyataan tersebut langsung memicu protes dari konsumen. Mereka menduga penghentian penjualan dilakukan sebelum stok benar-benar kosong.
Dalam video yang beredar, terdengar salah seorang konsumen mempertanyakan keputusan petugas menghentikan pelayanan.
Ia mengaku sempat melihat salah satu petugas melakukan panggilan video (video call) dengan seseorang dan menyebut bahwa kendaraan yang berada tepat di depan mereka merupakan kendaraan terakhir yang akan dilayani.
Konsumen kemudian mempertanyakan dasar keputusan tersebut karena, menurut pengamatan mereka, masih terdapat sisa Pertalite di dalam nozel dispenser setelah pengisian kendaraan terakhir selesai dilakukan.
BACA JUGA:Polres Lubuklinggau Gelar Doa Lintas Agama, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Dalam video tersebut Petugas SPBU menjelaskan bahwa penghentian penjualan dilakukan berdasarkan pemantauan stok BBM yang tersisa di tangki penyimpanan.
Menurut petugas, volume Pertalite sudah berada di batas minimum sehingga pelayanan harus dihentikan.
Penjelasan itu belum mampu meredakan situasi. Konsumen tetap bersikeras meminta agar kendaraannya tetap diisi Pertalite, meskipun hanya dalam jumlah yang sangat sedikit.