Materi selanjutnya membahas toksikokinetik dan toksikodinamik. Toksikokinetik menjelaskan proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi toksikan oleh tubuh.
Sedangkan toksikodinamik menerangkan mekanisme toksikan menimbulkan perubahan dan efek biologis.
BACA JUGA:Modal Rp5 Juta Ubah Harapan Warga Muba Jadi Sumber Penghasilan
Prof. Rohi juga menguraikan tiga jalur utama masuknya toksikan, yaitu inhalasi, ingesti, dan kontak dermal, serta menekankan pentingnya alat pelindung diri dan praktik kerja yang benar untuk mengurangi paparan.
Dalam konteks pertanian, pembahasan diarahkan pada risiko paparan pestisida pada pekerja dan masyarakat.
Penggunaan alat pelindung diri yang tidak lengkap, pemakaian kembali pakaian atau perlengkapan kerja yang telah terkontaminasi, serta kurangnya pemahaman mengenai bagian tubuh yang lebih mudah menyerap bahan kimia dapat meningkatkan risiko paparan.
“Pengendalian risiko tidak cukup hanya dengan menyediakan alat pelindung diri, tetapi juga harus disertai edukasi mengenai penggunaan, pembersihan, penyimpanan, dan penggantiannya secara tepat,” jelas Prof. Rohi.
BACA JUGA:7 Jenis Kopi yang Lebih Ramah untuk Lambung, Penikmat Kopi Tak Perlu Takut Maag Kambuh
Prof. Rohi menggunakan sejumlah kasus untuk menghubungkan konsep toksikologi dengan persoalan kesehatan dan lingkungan.
Antara lain penggunaan DDT yang dibahas Rachel Carson dalam buku Silent Spring, kanker pada pekerja pembersih cerobong yang diamati Percivall Pott, penyakit Itai-itai akibat paparan kadmium, penyakit Minamata akibat merkuri, serta paparan pestisida pada petani.
Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa sumber, jalur, durasi, dan pola paparan perlu dikaji secara menyeluruh sebelum menentukan langkah pencegahan.
Pembahasan juga mencakup biokonsentrasi, bioakumulasi, dan biomagnifikasi. Konsentrasi pencemar dapat meningkat di dalam organisme dan bertambah pada tingkat trofik yang lebih tinggi dalam rantai makanan.
Untuk menilai paparan dan dampaknya, toksikologi lingkungan menggunakan biomarker, seperti aktivitas kolinesterase pada paparan organofosfat dan karbamat, serta bioindikator berupa organisme yang dapat menggambarkan kondisi pencemaran suatu ekosistem.
BACA JUGA:Polsek Babat Toman Bongkar Dua Lokasi Illegal Refinery di Musi Banyuasin
Pada bagian akhir, Prof. Rohi mengangkat mikroplastik sebagai isu toksikologi modern. Mikroplastik dapat berasal dari degradasi berbagai produk plastik dan ditemukan pada sejumlah media lingkungan maupun bahan pangan.
Namun, penilaian risikonya masih menghadapi tantangan karena belum tersedia ambang keamanan universal dan mikroplastik dapat membawa atau berinteraksi dengan kontaminan lain.