Setelah itu, kikil dipotong sesuai kebutuhan sebelum dimasak kembali bersama bumbu gulai.
BACA JUGA:Sus Buah, Camilan Segar yang Kembali Diminati Masyarakat
BACA JUGA:Tanghulu, Camilan Tradisional China yang Menjadi Tren di Kalangan Anak Muda
Bumbu yang digunakan umumnya terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun salam, dan berbagai rempah lainnya. Bumbu tersebut dihaluskan kemudian ditumis hingga mengeluarkan aroma harum.
Setelah bumbu matang, santan ditambahkan dan dimasak dengan api yang sesuai agar kuah tidak pecah.
Kikil kemudian dimasukkan ke dalam kuah dan dimasak hingga bumbu meresap. Pada tahap ini, penggunaan api kecil sering menjadi pilihan agar kuah dan kikil dapat matang secara perlahan.
Proses tersebut juga membantu menghasilkan tekstur kikil yang lebih lembut sekaligus membuat rasa rempah semakin menyatu.
Di sejumlah rumah makan, gulai kikil biasanya disajikan bersama nasi putih hangat. Beberapa penjual juga menyediakan tambahan sambal, bawang goreng, daun bawang, atau kerupuk sebagai pelengkap.
Perpaduan nasi, kuah gulai, dan kikil menjadi menu yang cukup mengenyangkan sehingga kerap dipilih sebagai hidangan makan siang maupun makan malam.
Popularitas gulai kikil juga tidak lepas dari keberadaan warung makan tradisional yang mempertahankan resep turun-temurun.
Resep tersebut biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan perubahan kecil menyesuaikan selera pelanggan.
Beberapa pedagang bahkan memiliki racikan bumbu khusus yang menjadi ciri khas usaha mereka.
Di tengah berkembangnya kuliner modern, hidangan tradisional seperti gulai kikil tetap memiliki tempat tersendiri.
Keberadaan makanan ini menunjukkan bahwa kuliner Indonesia memiliki kekayaan bahan dan teknik pengolahan yang beragam.
Bahan yang sebelumnya dianggap sederhana dapat diolah menjadi hidangan dengan cita rasa yang kuat dan bernilai jual.
Selain dijual di rumah makan, gulai kikil juga sering hadir dalam berbagai acara keluarga dan perayaan tertentu.