BACA JUGA:Ketika Hutan Terbakar, Hak Masyarakat atas Udara Bersih Dipertaruhkan
Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengingatkan bahwa okupansi hotel dan restoran di daerah terdampak bisa merosot hingga tinggal 10–20 persen.
Secara nasional, lembaga riset CELIOS memperkirakan biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla Januari–Agustus 2026 berkisar Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Angka itu bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada sopir, pemilik penginapan, penjual pempek, dan pekerja harian yang pendapatannya ikut menguap bersama asap.
BACA JUGA:Kata-Kata Pejabat dan Harga Sebuah Kepercayaan
Padahal fondasi ekonomi Sumsel sebelumnya cukup kuat.
Pertumbuhan mencapai 5,34 persen pada kuartal I dan 5,20 persen pada kuartal II 2026, meski sedikit di bawah angka nasional.
Artinya, bahan dasarnya ada.
Tugas kita adalah menjaganya agar tidak retak.
Kabar baiknya, langit mulai berpihak.
BMKG memperkirakan Sumsel memasuki musim hujan 2026/2027 pada November, meski intensitas awalnya masih rendah.
Di sisi lain, BPS mengingatkan bahwa El Niño berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Per 25 Oktober, titik panas di Sumsel masih tercatat 823 titik, sebagian besar di Ogan Komering Ilir, dan status siaga karhutla berlaku sampai 30 November.
Pesannya jelas: hujan pertama belum berarti aman. Kita sering rajin memadamkan api ketika sudah membesar, lalu lengah ketika hujan datang.
Padahal pembasahan gambut, patroli desa, dan penegakan hukum harus terus berjalan.