Dari Daun Jadi Batik, dari Limbah Menjadi Cat
Salah satu pengunjung mencoba membuat Batik di Rumah Keratif Boek Khaman.-Foto : Prabu Palpos-
Perubahan tidak selalu dimulai dari pendapatan yang besar.
Terkadang, perubahan berawal ketika seseorang memperoleh kesempatan untuk mencoba, merasakan hasilnya, lalu semakin yakin untuk mengembangkan kemampuan.
Senior Officer Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Dedi Zikrian, menuturkan bahwa Rumah Kreatif Boek Khaman mulai berkembang sejak 2023 dengan melibatkan ibu rumah tangga dan remaja putus sekolah.
Kelompok ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mengubah potensi yang ada di desa menjadi kegiatan produktif.
Bagi ibu rumah tangga, kegiatan membatik membuka peluang untuk memperoleh penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan seluruh tanggung jawab keluarga.
Bagi remaja putus sekolah, kelompok ini memberikan kesempatan untuk belajar, berkarya, dan menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan.
Kehadiran kelompok tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari kegiatan berskala besar.
Langkah sederhana, seperti mengembangkan keterampilan yang dapat dipelajari bersama, bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih luas.
Yang dibutuhkan adalah pendampingan yang tepat, kemauan untuk belajar, serta kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan berdasarkan potensi yang mereka miliki.
Dari proses itulah Rumah Kreatif Boek Khaman mulai membangun identitasnya. Batik khas desa menjadi produk utama, sementara keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan yang menopang keberlanjutan usaha.
Salah satu perkembangan penting dalam perjalanan Rumah Kreatif Boek Khaman adalah kerja sama antara PT Pertamina EP Limau Field dan Universitas Negeri Sriwijaya.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas persoalan limbah pewarna cair yang dihasilkan dari kegiatan membatik.
Melalui pendampingan dan penerapan pengetahuan, kelompok masyarakat mulai mengenal kemungkinan mengolah sisa pewarna menjadi bahan yang dapat digunakan kembali.
Dalam pengembangan tersebut, limbah pewarna cair diolah menjadi serbuk yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengecat.
Dalam kegiatan produksi, sisa bahan sering kali dianggap sebagai bagian yang tidak lagi memiliki nilai. Setelah produk utama selesai dibuat, perhatian biasanya beralih pada hasil yang siap dijual, sedangkan sisa proses produksi menjadi urusan berikutnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

