Dari Daun Jadi Batik, dari Limbah Menjadi Cat
Salah satu pengunjung mencoba membuat Batik di Rumah Keratif Boek Khaman.-Foto : Prabu Palpos-
Pendekatan tersebut dapat menimbulkan persoalan ketika limbah tidak ditangani secara tepat. Bukan hanya berpotensi mencemari lingkungan, limbah yang tidak dikelola juga dapat menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan dalam proses produksi belum dilakukan secara optimal.
Rumah Kreatif Boek Khaman mencoba melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda. Melalui pengolahan limbah pewarna cair menjadi serbuk yang dapat digunakan untuk mengecat, kelompok ini mengenal konsep pemanfaatan kembali bahan sisa.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat mengurangi pemborosan sumber daya dan mencari manfaat dari material yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Gagasan ini menjadi penting karena keberlanjutan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berskala besar. Praktik sederhana dalam usaha masyarakat juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan produksi yang lebih bertanggung jawab.
Usaha batik, misalnya, dapat memulai langkah tersebut dengan mengenali bahan yang digunakan, memahami sisa yang dihasilkan, dan mencari metode pengolahan yang sesuai. Dengan cara itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak berdiri terpisah dari kegiatan ekonomi. Keduanya justru saling berkaitan.
Usaha yang mampu mengelola bahan secara lebih bijak berpeluang meningkatkan efisiensi, sementara lingkungan memperoleh manfaat dari upaya mengurangi pembuangan limbah yang tidak tepat.
Meski demikian, pemanfaatan kembali limbah tetap harus dilakukan dengan memperhatikan aspek teknis dan keselamatan. Tidak semua jenis limbah dapat diolah dengan cara yang sama, sehingga proses pengolahan perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan serta tujuan penggunaannya.
Bagi kelompok Rumah Kreatif Boek Khaman, pengalaman ini menjadi bagian dari proses membangun usaha yang lebih matang.
Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan atau banyaknya pesanan yang diterima. Ada pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan usaha berjalan dengan memperhatikan lingkungan sekitar.
Kehadiran perusahaan di suatu wilayah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan operasional dan kontribusinya terhadap sektor energi. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan.
Dalam konteks tersebut, program pemberdayaan masyarakat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kapasitas perusahaan dengan kebutuhan warga.
PT Pertamina EP Limau Field melalui program pemberdayaan yang didampingi PHR Zona 4 mengembangkan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi salah satu contoh bagaimana potensi desa dapat dikembangkan melalui dukungan, pendampingan, dan kolaborasi.
Senior Officer Community Involvement and Development PHR Zona 4, Dedi Zikrian, menekankan pentingnya membangun program yang tidak berhenti pada pemberian bantuan.

Senior Officer Community Involvement and Development (CID) PHR Zona 4, Dedi Zikrian, memberikan penjelasan mengenai perkembangan Rumah Keratif Boek Khaman.-Foto: Prabu-
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

