Pergerakan Pemudik Lebaran 2025 Diprediksi Turun, Tren Penggunaan Mobil Pribadi Tetap Tinggi

Pergerakan Pemudik Lebaran 2025 Diprediksi Turun, Tren Penggunaan Mobil Pribadi Tetap Tinggi-Foto:dokumen palpos-
PALPOS.ID - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bahwa pergerakan pemudik pada Lebaran 2024 mencapai angka 242 juta orang, jauh melampaui proyeksi awal Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang memperkirakan sekitar 193 juta pemudik.
Namun, untuk tahun 2025, jumlah pemudik diprediksi mengalami penurunan sebesar 24% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski terjadi penurunan secara keseluruhan, tren penggunaan mobil pribadi sebagai moda transportasi mudik tetap menunjukkan angka yang signifikan.
Menurut Kasubdit Uji Tipe Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Yusuf Nugroho, pada Lebaran 2024 sekitar 35,4 juta pemudik atau sekitar 18,29% dari total pemudik memilih menggunakan mobil pribadi.
BACA JUGA:Wagub Sumsel Cik Ujang Gelar Halal Bihalal dengan Warga Lahat
BACA JUGA:Daftar Tarif Listrik Subsidi dan Nonsubsidi Per KWH Berlaku April 2025
Angka ini terus mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 27,3 juta pemudik pada tahun 2023 dan 22,9 juta pada tahun 2022.
Untuk tahun 2025, diperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan mobil pribadi mencapai 33,69 juta orang, meskipun ada penurunan total jumlah pemudik.
Faktor Penurunan Jumlah Pemudik
Kemenhub menyebutkan bahwa prediksi jumlah pemudik yang lebih rendah pada tahun 2025 didasarkan pada survei persepsi publik yang dilakukan pada pertengahan Februari 2025.
BACA JUGA:Pemekaran Wilayah Kalimantan Utara: Calon Kabupaten Sungai Kayan Bersiap Menjadi Daerah Otonomi Baru
BACA JUGA:Pemekaran Wilayah Kalimantan Utara: Calon Kota Tanjung Selor Dapat Dukungan Masyarakat
Namun, pihaknya menegaskan bahwa angka ini masih dapat berubah tergantung situasi dan kondisi menjelang Lebaran.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan penurunan jumlah pemudik antara lain adalah faktor ekonomi, harga bahan bakar yang mengalami kenaikan, serta perubahan pola kerja dan kebijakan perusahaan yang mungkin mengurangi cuti bersama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: