“Dulu yang beli kebanyakan orang tua, sekarang anak-anak muda juga banyak. Apalagi setelah kue pancong sering muncul di media sosial,” ujarnya.
BACA JUGA:Nasi Megono, Kuliner Tradisional Pekalongan yang Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernisasi
BACA JUGA:Kreasi Pisang Goreng Donat, Camilan Sederhana dengan Tampilan Kekinian yang Disukai Anak dan Dewasa
Menurut Suryadi, inovasi rasa seperti pancong cokelat, keju, dan pandan turut menarik minat pembeli baru tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Media sosial memang berperan besar dalam mengangkat kembali popularitas kue pancong kelapa.
Banyak konten kreator kuliner yang mengulas jajanan tradisional ini, menampilkan proses pembuatan yang menggugah selera.
Video pendek yang memperlihatkan adonan dituangkan ke cetakan panas, disertai suara desis dan aroma kelapa yang keluar saat dipanggang, kerap menarik perhatian warganet.
Selain rasanya yang lezat, kue pancong juga dinilai memiliki nilai historis dan emosional.
Bagi sebagian orang, kue ini mengingatkan pada masa kecil dan suasana kampung halaman. “Setiap makan pancong, rasanya seperti nostalgia.
Dulu sering beli sepulang sekolah,” kata Rina (28), seorang karyawan swasta yang rutin membeli kue pancong di dekat tempat kerjanya.
Dari sisi ekonomi, kue pancong kelapa juga memberikan peluang usaha yang menjanjikan.
Modal yang relatif kecil dan bahan baku yang mudah didapat membuat banyak pelaku usaha mikro tertarik untuk menekuni bisnis ini.
Dengan harga jual yang terjangkau, biasanya berkisar antara Rp3.000 hingga Rp8.000 per potong tergantung topping, kue pancong mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Pemerhati kuliner tradisional menilai kebangkitan kue pancong sebagai sinyal positif bagi pelestarian makanan lokal.
Menurut mereka, keberlangsungan jajanan tradisional sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha untuk beradaptasi dengan selera zaman tanpa menghilangkan keaslian rasa.
Inovasi yang tepat dapat membuat kue pancong tetap relevan di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat.