Jika ditambahkan sumber protein seperti ayam tanpa kulit atau tahu, kandungan gizinya semakin lengkap tanpa menambah banyak lemak jenuh.
“Sayur sup sangat baik dikonsumsi anak-anak dan lansia. Teksturnya yang lembut memudahkan proses makan, sementara rasa gurih alaminya berasal dari kaldu sayuran dan rempah, bukan dari bahan penyedap buatan.”
Menariknya, sayur sup juga dinilai sebagai solusi ekonomis di tengah naiknya harga bahan pangan.
Dengan bahan sederhana dan proses memasak yang singkat, masyarakat dapat membuat makanan bergizi tanpa biaya besar.
Beberapa komunitas ibu rumah tangga bahkan mengadakan gerakan “Satu Hari Satu Sup” sebagai bentuk edukasi gizi keluarga.
“Sup bukan hanya makanan, tapi juga simbol kehangatan dan kebersamaan keluarga. Dari anak kecil sampai orang tua, semua bisa menikmatinya,” tutur Siti Mariam menutup wawancara.
Sayur sup memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya memiliki makna yang mendalam dalam budaya kuliner Indonesia.
Di tengah perubahan gaya hidup dan tantangan ekonomi, sayur sup tetap menjadi pilihan makanan bergizi, hemat, dan penuh cita rasa.
Baik disajikan di meja rumah tangga maupun restoran modern, kehangatan semangkuk sayur sup seakan menjadi pengingat bahwa kesehatan dan kebersamaan sering kali berasal dari hal-hal yang paling sederhana.