Permintaan cumi asin yang stabil membuat harga relatif terjaga, sekaligus membuka peluang usaha bagi UMKM yang bergerak di bidang pengolahan makanan laut.
BACA JUGA:Nasi Tutug Oncom : Kuliner Tradisional Sunda yang Kian Mendunia
BACA JUGA:Nasi Bakar : Sensasi Tradisional yang Menggugah Selera Kuliner Nusantara
Di sejumlah sentra pengolahan, cumi asin diproduksi dengan standar kebersihan yang semakin baik untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kian luas.
Pakar kuliner menilai bahwa kebangkitan menu seperti cumi asin cabe ijo merupakan bagian dari tren kembali ke akar kuliner lokal.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan hidangan internasional, masyarakat mulai menyadari nilai dari masakan tradisional yang menggunakan bahan sederhana namun sarat rasa.
“Masakan seperti ini punya cerita, punya identitas. Itu yang dicari konsumen sekarang,” kata seorang pengamat kuliner.
Tak hanya di restoran, media sosial juga berperan besar dalam mempopulerkan cumi asin cabe ijo.
Banyak kreator konten membagikan resep, tips memasak, hingga ulasan tempat makan yang menyajikan menu tersebut.
Tampilan cabai hijau yang menggoda dengan potongan cumi berkilau sering kali sukses menarik perhatian warganet dan memicu keinginan untuk mencoba.
Meski demikian, konsumsi cumi asin tetap perlu diperhatikan dari sisi kesehatan. Kandungan garam yang cukup tinggi membuat hidangan ini sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan, terutama bagi penderita tekanan darah tinggi.
Sejumlah juru masak menyiasatinya dengan merendam cumi asin lebih lama sebelum dimasak untuk mengurangi kadar garam, tanpa menghilangkan cita rasa khasnya.
Inovasi juga terus bermunculan. Beberapa restoran menghadirkan cumi asin cabe ijo dalam bentuk modern, seperti topping nasi bakar, isian rice bowl, hingga pendamping pasta.
Meski tampil berbeda, rasa dasar yang gurih dan pedas tetap dipertahankan agar tidak kehilangan identitas aslinya. Upaya ini dinilai mampu menjangkau konsumen muda yang menyukai eksplorasi rasa baru.
Ke depan, cumi asin cabe ijo diprediksi akan tetap menjadi favorit di tengah masyarakat.
Ketersediaan bahan yang relatif mudah, proses memasak yang tidak rumit, serta rasa yang kuat membuatnya sulit tergantikan.