Harga jual pakis di pasar tradisional relatif terjangkau, namun dengan meningkatnya permintaan dari restoran dan hotel, nilainya pun ikut terdongkrak.
Hal ini membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan dan perbukitan.
Seorang pedagang sayur di pasar tradisional mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pakis meningkat signifikan, terutama menjelang akhir pekan.
Banyak keluarga yang menjadikan tumis pakis sebagai menu pelengkap makan siang bersama.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba memasak tumis pakis di rumah, ada beberapa tips yang bisa diperhatikan.
Pertama, pilih pakis dengan warna hijau segar dan batang yang tidak terlalu keras. Hindari pakis yang sudah menguning atau layu.
Kedua, cuci bersih di bawah air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan sisa tanah. Jika perlu, rendam sebentar dalam air garam sebelum dimasak. Ketiga, masak dengan api besar dan waktu singkat agar tekstur tetap renyah.
Sebagai variasi, tumis pakis juga dapat dipadukan dengan tahu, tempe, atau jamur untuk menu vegetarian yang kaya nutrisi.
Bagi pecinta rasa pedas, tambahan cabai rawit akan memberikan sensasi yang lebih menggugah selera.
Tumis sayur pakis bukan sekadar hidangan sederhana, melainkan bagian dari kekayaan kuliner Indonesia yang patut dijaga.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan hidangan impor, keberadaan masakan tradisional seperti tumis pakis menjadi pengingat akan pentingnya memanfaatkan bahan pangan lokal.
Upaya pelestarian dapat dimulai dari dapur rumah tangga hingga promosi di industri kuliner. Dengan inovasi dan kreativitas, tumis sayur pakis berpotensi terus berkembang tanpa kehilangan cita rasa aslinya.
Kini, dari desa hingga kota besar, tumis sayur pakis membuktikan bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Sederhana, sehat, dan lezat—itulah pesona yang membuatnya terus digemari lintas generasi.