Sosis Goreng Jadi Primadona Baru di Kalangan Anak Muda, Omzet Pedagang Naik Drastis

Sosis goreng kini bukan cuma jajanan anak-anak, tapi udah jadi primadona di kalangan remaja dan dewasa muda.-Fhoto: Istimewa-
PALPOS.ID - Dalam beberapa bulan terakhir, jajanan kaki lima sosis goreng semakin populer di berbagai kota besar di Indonesia.
Jajanan sederhana ini kini tak hanya disukai anak-anak, tetapi juga menjadi favorit di kalangan remaja dan dewasa muda.
Dengan beragam varian rasa dan bumbu, sosis goreng menjelma menjadi tren kuliner jalanan yang menggiurkan dan menjanjikan secara ekonomi bagi para pedagang kecil.
Sosis goreng, atau yang biasa disebut sosgor, sebenarnya bukanlah makanan baru.
BACA JUGA:Jamur Crispy : Camilan Renyah yang Kian Digemari Masyarakat
BACA JUGA:Calamari Ring, Camilan Kekinian yang Sedang Hits di Indonesia
Namun, dengan inovasi penyajian dan strategi promosi di media sosial, makanan ini mengalami kebangkitan popularitas yang luar biasa.
Penjualannya meningkat tajam, bahkan beberapa pedagang mengaku mampu meraih omzet hingga jutaan rupiah per hari.
Rika Lestari (29), warga Bekasi, memulai usaha sosis gorengnya hanya dengan modal Rp300 ribu.
Ia berjualan di depan sekolah dasar sejak Februari 2025. Tak disangka, usahanya cepat berkembang.
BACA JUGA:Onion Ring, Camilan Renyah yang Kembali Naik Daun di Kalangan Milenial
BACA JUGA:Combro : Makanan Tradisional Sunda yang Tetap Eksis di Tengah Gempuran Kuliner Modern
“Awalnya saya hanya ingin bantu ekonomi keluarga. Tapi karena banyak yang suka, akhirnya saya seriusin,” ujarnya saat ditemui tim kami di lapak kecilnya.
Kini, Rika mampu menjual lebih dari 500 tusuk sosis goreng per hari.
Harga per tusuk berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000, tergantung varian dan ukuran.
Ia juga menambahkan berbagai bumbu kekinian seperti bumbu balado, keju asin, hingga rasa jagung bakar.
BACA JUGA:Keripik Tempe, Camilan Tradisional yang Kian Mendunia
BACA JUGA:Resep Tunjang Khas Padang, Gurih Berpadu Pedas yang Bikin Nagih
“Anak-anak suka yang pedas, remaja lebih suka yang keju. Saya coba ikutin tren,” tambahnya.
Salah satu faktor yang mendorong popularitas sosis goreng adalah media sosial, terutama TikTok dan Instagram.
Banyak konten kreator kuliner yang mengulas jajanan ini dalam video singkat.
Mereka menyoroti suara kriuk dari sosis saat digigit, visual saus yang melimpah, serta proses goreng yang menggoda selera.
“Konten sosis goreng itu sangat menjual. Visualnya menarik, murah, dan relatable.
Banyak penonton yang langsung pengin coba habis nonton,” ujar Arya Nugroho, food vlogger asal Bandung yang punya lebih dari 300 ribu pengikut di TikTok.
Di beberapa wilayah, pedagang bahkan sengaja membuat gerobak atau kios mereka tampak “instagramable” untuk menarik pelanggan yang ingin berfoto sambil membeli makanan.
Hal ini terbukti efektif menaikkan omzet, terutama di lokasi yang ramai seperti dekat kampus atau stasiun.
Fenomena sosis goreng ini membawa dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Menurut data dari Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta, jumlah pedagang kuliner jalanan meningkat 12% sejak awal tahun, dan sekitar 30% dari mereka menjual produk olahan sosis.
“Ini menunjukkan bahwa tren makanan ringan seperti sosis goreng bisa menjadi peluang ekonomi yang besar.
Kami sedang mengembangkan program pelatihan dan pendampingan bagi para pedagang agar bisa meningkatkan kualitas produk dan pengemasan,” ujar Rina Wulandari, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta.
Beberapa pedagang bahkan mulai mengemas sosis goreng dalam bentuk frozen food untuk dipasarkan secara online.
Hal ini memberikan peluang ekspansi pasar ke luar kota, bahkan luar pulau.
Dengan meningkatnya popularitas, persaingan antar pedagang juga semakin ketat.
Banyak yang mulai berinovasi, seperti menambahkan topping mozarella, membuat sosis geprek, hingga mengombinasikan dengan makanan lain seperti mie goreng dan kentang spiral.
Tak sedikit pula yang bermain dalam branding, seperti memberikan nama unik pada menu mereka—misalnya “Sosgor Gila Level 10” atau “Sosis Lumer Meleleh”.
Strategi ini terbukti menarik perhatian terutama di media sosial.
Namun demikian, beberapa pakar gizi mengingatkan agar masyarakat tetap bijak dalam mengonsumsi makanan ini.
“Sosis goreng, jika dikonsumsi berlebihan, bisa berisiko terhadap kesehatan, terutama karena kandungan lemak dan sodium yang tinggi.
Sebaiknya seimbang dengan makanan sehat lainnya,” ujar dr. Santi Lestari, ahli gizi dari Universitas Indonesia.
Sosis goreng kini bukan sekadar jajanan murah meriah, tetapi sudah menjadi fenomena kuliner yang merambah semua kalangan.
Di balik kelezatannya, terdapat cerita perjuangan para pedagang kecil yang mampu mengubah nasib lewat usaha sederhana namun kreatif.
Dengan dukungan promosi digital dan inovasi berkelanjutan, sosis goreng diprediksi akan tetap menjadi bagian dari budaya kuliner jalanan Indonesia dalam waktu yang lama.
Dan siapa tahu, makanan ini bisa jadi ikon baru jajanan lokal yang mendunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: