Update Penanganan Masalah Tulang Belakang: Degenerasi Jadi Kasus Tertinggi, Masyarakat Diminta Waspada

Update Penanganan Masalah Tulang Belakang: Degenerasi Jadi Kasus Tertinggi, Masyarakat Diminta Waspada-Foto:dokumen palpos-
PALEMBANG, PALPOS.ID – Masalah tulang belakang (spine) masih menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia kesehatan.
Mulai dari tumor, infeksi, patah tulang, hingga skoliosis, berbagai keluhan tersebut membutuhkan penanganan medis yang tepat agar tidak berujung pada kecacatan permanen.
Namun, menurut dr. Asrafi Rizki Gatam, SpOT (K) Spine, kasus yang paling banyak dijumpai justru adalah degenerasi tulang belakang atau kerusakan akibat proses penuaan alami.
“Pasien datang dengan keluhan nyeri punggung yang kadang menjalar ke tangan maupun kaki. Ada juga yang mengalami kelemahan otot.
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Resmikan Dua Laboratorium Canggih Unsri, Dorong SDM Berdaya Saing Global
Itu adalah gejala umum degenerasi tulang belakang,” jelasnya dalam kegiatan Media Tour 2025 bertajuk Update Management of Spine Problems.
Nyeri Pinggang, Gejala yang Sering Diabaikan
Nyeri pinggang sering dianggap sepele oleh sebagian masyarakat.
Padahal, meski sebagian besar hanya disebabkan masalah otot, ada beberapa kondisi serius yang bisa tersembunyi di balik keluhan ini.
BACA JUGA:Dorong Potensi Indikasi Geografis, Kanwil Kemenkum Sumsel Terima Kunjungan Balitbangda Prabumulih
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Dorong Digitalisasi dan Kolaborasi Pemda untuk Reforma Agraria Berkelanjutan
dr. Asrafi menjelaskan, sakit pinggang umumnya tidak berbahaya.
Namun, pasien sebaiknya mulai waspada apabila nyeri berlangsung lebih dari dua minggu dan tidak membaik meskipun sudah minum obat.
Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan medis wajib dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
“Kalau nyeri sudah lebih dari dua minggu, obat tidak mempan, atau muncul gejala lain seperti kelemahan kaki hingga gangguan buang air kecil maupun buang air besar, itu tandanya harus segera ke dokter,” katanya.
BACA JUGA:Wagub Cik Ujang Apresiasi Program Kesehatan Gratis Prioritas Presiden Prabowo
BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Pastikan Dukungan Penuh untuk Karang Asem Festival 2025
Selain itu, nyeri punggung yang muncul setelah trauma fisik, seperti jatuh dari ketinggian, juga menjadi indikator penting untuk segera memeriksakan diri.
Pemeriksaan Penunjang untuk Deteksi Dini
Bagi pasien dengan keluhan berkelanjutan, pemeriksaan penunjang menjadi langkah penting.
Rontgen adalah salah satu metode paling dasar yang digunakan dokter untuk melihat kondisi tulang belakang.
Namun, jika gejala menunjukkan adanya gangguan saraf atau kemungkinan tumor, pemeriksaan lanjutan seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau CT Scan bisa dilakukan.
Dengan pemeriksaan menyeluruh, diagnosis akan lebih akurat sehingga penanganan dapat diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Tindakan Medis: Dari Dekompresi Hingga Robotik
Penanganan masalah tulang belakang sangat beragam, tergantung pada jenis penyakit dan tingkat keparahan pasien. dr. Asrafi merinci tiga kategori utama tindakan medis yang biasanya dilakukan:
Dekompresi
Tindakan ini bertujuan membebaskan ruangan saraf yang terjepit. Dekompresi dapat dilakukan pada pasien dengan saraf kejepit, abses akibat infeksi, maupun tumor yang menekan jalur saraf.
Fusi (Pemasangan Pen)
Fusi dilakukan untuk mengatasi tulang belakang yang bergeser, terkena infeksi, atau ditumbuhi tumor.
Ada dua jenis fusi:
Fusi lokal, yaitu pemasangan pen pada bagian yang rusak.
Koreksi deformitas, misalnya untuk memperbaiki kelainan bentuk tulang belakang seperti skoliosis dan kifosis.
Penggantian Bantalan (Artificial Disc Replacement)
Prosedur ini dilakukan dengan mengganti bantalan tulang belakang yang rusak menggunakan bantalan buatan.
Menariknya, bantalan ini tetap memungkinkan gerakan normal, berbeda dengan fusi yang membuat tulang lebih kaku.
Lebih lanjut, kemajuan teknologi kedokteran kini memungkinkan pemasangan pen dilakukan dengan bantuan robotik.
“Dengan robot, tindakan menjadi lebih presisi, aman, dan hasilnya lebih baik untuk pasien,” ungkap dr. Asrafi.
Skoliosis: Masalah Serius yang Sering Terjadi pada Remaja
Salah satu kelainan tulang belakang yang cukup banyak dijumpai adalah skoliosis atau kelengkungan tulang belakang yang abnormal.
Kondisi ini bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak dan remaja.
Menurut dr. Asrafi, penyebab skoliosis sangat beragam, mulai dari bawaan lahir hingga gangguan otot.
Beberapa di antaranya adalah:
Kongenital, yaitu kelainan bawaan lahir akibat pertumbuhan tulang belakang yang tidak sempurna.
Neuromuskular, terjadi karena gangguan fungsi otot, misalnya pada penderita sindrom tertentu termasuk Down Syndrome.
Idiopatik, yaitu jenis skoliosis yang penyebabnya masih belum diketahui meski telah banyak penelitian.
“Sekitar 70–80 persen kasus skoliosis termasuk kategori idiopatik.
Artinya, sampai sekarang dunia medis belum mengetahui penyebab pastinya.
Kasus ini paling banyak muncul pada remaja,” jelasnya.
Bahaya Kretek Tulang Belakang
Selain faktor medis, kebiasaan masyarakat yang salah dalam menangani nyeri punggung juga menjadi perhatian.
Salah satunya adalah praktik “kretek” tulang belakang, yaitu memaksa sendi bergerak lebih dari batas normal dengan tujuan menghasilkan suara "krek".
Menurut dr. Asrafi, kebiasaan ini sangat berbahaya. Bahkan, pernah ada kasus tragis di Jakarta ketika seorang penderita skoliosis meninggal dunia karena melakukan kretek.
“Pembuluh darah di tulang belakangnya pecah karena tindakan itu.
Jadi jangan pernah mencoba-coba melakukan manipulasi tulang belakang sembarangan, apalagi oleh orang yang tidak memiliki kompetensi medis,” tegasnya.
Edukasi dan Pencegahan
Masalah tulang belakang bisa dicegah dengan menjaga gaya hidup sehat. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:
Menjaga postur tubuh saat duduk dan berdiri.
Menghindari kebiasaan mengangkat beban berat dengan posisi tubuh yang salah.
Rutin berolahraga ringan untuk memperkuat otot punggung dan perut.
Menjaga berat badan agar tidak berlebihan.
Edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak terlambat menyadari gejala dan segera mendapatkan perawatan medis yang sesuai.
Kesimpulan
Dari berbagai kasus masalah tulang belakang, degenerasi akibat penuaan merupakan yang paling sering dijumpai.
Meski begitu, skoliosis, trauma, dan infeksi juga tetap membutuhkan perhatian serius.
Dokter mengingatkan bahwa nyeri punggung yang berlarut-larut tidak boleh diabaikan.
Pemeriksaan dini dapat mencegah kondisi semakin parah. Dengan dukungan teknologi modern, penanganan medis kini semakin aman dan efektif, termasuk penggunaan robotik untuk pemasangan pen.
“Pesan saya sederhana, jangan menunda ke dokter ketika ada keluhan. Jangan pula mencoba pengobatan yang tidak jelas, karena bisa berakibat fatal,” pungkas dr. Asrafi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: