Udang yang sudah terlalu lama disimpan atau beku cenderung menghasilkan tekstur keras dan kurang gurih.
BACA JUGA:Crepes Rumahan Anti Gagal, Camilan Favorit Bocil hingga Orang Dewasa
BACA JUGA:Tumis Kacang Panjang Kemiri, Sajian Sederhana yang Tetap Jadi Favorit Keluarga Indonesia
Sedangkan untuk penggorengan, suhu minyak menjadi faktor penting.
Minyak yang terlalu panas akan membuat tepung cepat gosong sebelum udang matang sempurna, sementara minyak yang terlalu dingin akan membuat tepung menyerap terlalu banyak minyak sehingga terasa berminyak.
Banyak koki berpengalaman menggunakan minyak dengan suhu sekitar 170–180°C untuk mendapatkan lapisan tepung yang renyah sempurna.
Selain itu, beberapa teknik modern seperti “double frying” atau menggoreng dua kali juga semakin populer.
Metode ini dilakukan dengan menggoreng udang pertama kali untuk memasaknya, kemudian menggoreng lagi sebentar sebelum disajikan untuk menjaga kerenyahan maksimal.
Teknik ini sangat efektif terutama untuk restoran yang menghidangkan udang goreng tepung dalam porsi besar.
Udang goreng tepung juga menjadi wadah inovasi kuliner yang menarik.
Selain versi klasik dengan saus sambal atau mayones, beberapa restoran menghadirkan udang goreng tepung dengan saus manis pedas ala Asia Timur, saus keju, atau bahkan saus kari.
Variasi ini tidak hanya memperkaya rasa tetapi juga membuat hidangan ini lebih instagramable, yang tentu menarik perhatian generasi muda yang gemar berbagi foto makanan.
Selain itu, ada juga versi “mini” untuk camilan, di mana udang berukuran kecil digoreng dengan tepung ringan dan disajikan dengan saus celup seperti mayonnaise pedas atau saus keju.
Konsep ini cocok untuk dinikmati bersama teman atau sebagai finger food di berbagai acara.
Udang goreng tepung juga memiliki peran dalam sektor ekonomi lokal.
Permintaan yang tinggi terhadap udang segar mendorong nelayan untuk memasok hasil tangkapan mereka ke pasar lokal dan restoran.