Di tengah maraknya kue modern dan dessert ala Barat, kue lapis tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
BACA JUGA:Bolu Singkong Karamel Kukus, Sajian Spesial yang Ubah Citra Singkong Jadi Lebih Istimewa
BACA JUGA:Camilan Sederhana Tanpa Mixer dan Oven, Sajian Hangat yang Disukai Seluruh Keluarga
Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kue lapis kembali naik daun seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner tradisional.
Media sosial turut berperan besar dalam mempopulerkan kembali kue ini, terutama melalui konten video yang menampilkan proses pemotongan kue lapis yang memuaskan secara visual.
Selain kue lapis tradisional yang terbuat dari tepung beras, dikenal pula kue lapis legit yang berbahan dasar telur dan mentega.
Meski memiliki nama serupa, kue lapis legit memiliki karakter yang berbeda, baik dari segi rasa, tekstur, maupun harga.
Kue lapis legit umumnya lebih mahal karena menggunakan bahan premium dan proses pembuatan yang lebih rumit.
Namun, keduanya sama-sama mencerminkan filosofi kesabaran dan ketekunan dalam pembuatannya.
Inovasi juga terus dilakukan agar kue lapis tetap relevan dengan selera generasi muda.
Beberapa pelaku usaha mulai menghadirkan varian rasa baru seperti pandan, cokelat, kopi, hingga taro.
Pewarna alami dari daun pandan, bunga telang, dan ubi ungu juga semakin diminati seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan makanan sehat.
Pemerhati kuliner Nusantara, Budi Santoso, menilai kue lapis memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
“Kue lapis bukan sekadar jajanan, tetapi identitas budaya. Jika dikemas dengan baik dan dipasarkan secara kreatif, kue ini bisa bersaing di pasar modern bahkan internasional,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, kue lapis juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak pelaku usaha mikro dan kecil.
Di pasar tradisional hingga toko kue rumahan, kue lapis menjadi salah satu produk yang relatif stabil permintaannya.